Kedua, apakah kompensasi buat mereka sebesar penghasilan yang mereka dapatkan? Dihitung pendapatan normal harian, atau pendapatan saat lebaran? Sebab, ini dua penghasilan yang berbeda.
Ketiga, Kerja bukan hanya soal uang, tapi juga soal inspirasi, eksistensi, profesi, budaya, semangat dan harapan hidup, juga kesenangan dan networking. Banyak gojek, sopir dan akang becak berubah nasib karena networking ketika bekerja.
Yang pasti, bekerja bukan hanya soal uang. Tapi, bekerja berkaitan dengan pengalaman praktis setiap individu dalam merealisasikan eksistensinya, kata Soren Kierkegaard, filsuf asal Denmark abad 19.
Keempat, mengurai kemacetan haruskah dengan meliburkan mereka, kaum kecil? Ini kegagalan dalam rekayasa lalu lintas, lalu ambil jalan pintas dengan meliburkan pekerjaan kecil dan diberikan kompensasi.
Sekilas memang seperti jalan keluar, tapi ini sesungguhnya menjadi cara malas mencari solusi yang produktif.
Umum yang dilakukan pemerintah, baik pusat maupun daerah, lebih suka mengambil jalan pintas dalam menyelesaikan setiap masalah. Karena jalan pintas, hasilnya ya juga sepintas saja.
Rakyat miskin, kasih Bantuan Langsung Tunai alias BLT. Ngasihnya saat jelang pemilu. Sepintas oke. Tapi strategi ini jika dilakukan sebagai program jangka panjang, dan ini yang terjadi di Indonesia puluhan tahun, justru membuat rakyat malas dan tidak produktif.
Kenapa pemerintah tidak mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi, pembangunan ekonomi pedesaan yang lebih terukur, mendorong usaha manufaktur dan UMKM, meningkatkan SDM dan skill rakyat, memudahkan setiap bisnis dan investasi untuk tumbuh dan menghilangkan segala proses birokratik yang mempersulitnya.
BLT mirip dengan kebijakan Jawa Barat dalam mengurai kemacetan saat lebaran. Seperti sudah putus asa. Gagal mengurai kemacetan, gojek, angkot dan akang becak suruh libur. Praktis!
Apakah setiap lebaran nanti Angkot, gojek dan becak akan diliburkan dan dapat kompensasi?
Siap-siap jadi sopir angkot, gojek dan akang becak jika ingin kompensasi lebaran. Peluang nganggur dapat uang.
Untuk kepala daerah yang lain, apakah anda tertarik untuk meniru cara ini?
(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)
























































































































