Sementara sekutu-sekutu nonnegara Iran melakukan aksi nyata mencoba menghentikan genosida. Hanya sehari setelah Israel memulai agresi ke Gaza pada 7 Oktober 2023, kelompok Hizbullah di Lebanon selatan langsung meluncurkan roket-roket ke utara Israel. Serangan itu membuka front dengan Israel sampai akhirnya gencatan senjata dicapai, bersamaan dengan tekanan AS, pada tahun lalu.
Sedangkan kelompok Houthi, Ansharullah, di Yaman melakukan blokade terhadap kapal-kapal menuju Israel yang melintas di Laut Merah. Penutupan jalur pelayaran penting ini memicu intervensi AS dan sekutunya yang melakukan patroli dan serangan berulang ke Yaman. Kerugian besar AS kala itu memicu kesepakatan gencatan senjata yang juga dicapai tahun lalu.
Iran juga terlibat saling serang dengan Israel sepanjang Juni tahun lalu. Misil-misil Iran, ditingkahi kegembiraan di Gaza dan Tepi Barat, berhasil menimbulkan kerusakan signifikan di Tel Aviv. AS juga akhirnya turun tangan dengan membombardir Iran yang kemudian dibalas serangan Iran ke pangkalan militer AS di Qatar. Serangan ke Qatar itu memicu pengumuman gencatan senjata oleh AS.
Iran telah berulang kali mengisyaratkan bahwa pangkalan AS di wilayah tersebut akan kembali jadi target yang sah jika AS menyerang lagi. Serangan di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Juni itu, meski tidak menimbulkan korban jiwa, agaknya tetap menjadi kenangan segar dan menakutkan bagi para pemimpin Teluk.
Setiap serangan baru yang berkelanjutan dapat mengakibatkan fasilitas di Qatar, UEA, Arab Saudi, dan Bahrain mendapat serangan rudal atau serangan drone Iran. Pernyataan dari para pejabat Iran, seperti Ali Shamkhani, penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei yang berpengaruh, menunjukkan bahwa respons kali ini akan jauh lebih parah daripada serangan simbolis terhadap Al Udeid.
Menurut Eldar Mamedov, ancaman ini tidak bersifat hipotetis; Fasilitas minyak Saudi lumpuh akibat serangan Iran pada tahun 2019. Pelajaran yang bisa diambil jelas: Iran memiliki kemampuan untuk menyerang infrastruktur negara-negara Teluk. Karena tidak ada ruginya dalam perang yang dianggap penting bagi pemerintah Iran, motivasi untuk menyerang negara-negara yang menampung pangkalan militer AS akan meningkat.
Bahkan jika negara-negara Teluk terhindar dari serangan Iran di wilayah mereka, akan ada konsekuensi buruk lainnya. Negara-negara ini mencoba mendiversifikasi perekonomian mereka dan menarik investasi dan talenta asing; ancaman perang regional akan menyebabkan modal dan orang-orang mengungsi.


















































































































