Berdasarkan hasil sementara tim forensik RS Bhayangkara Sukabumi, ditemukan luka lebam dan luka bakar di beberapa bagian tubuh luar. Selain itu, terdapat pembengkakan pada organ dalam seperti jantung dan paru-paru. Sampel organ tersebut telah dikirim ke laboratorium forensik pusat di Jakarta untuk pemeriksaan lanjutan, termasuk kemungkinan adanya zat tertentu dalam tubuh korban.
“Kita masih menunggu hasil lengkapnya. Apakah kematian ini murni karena sakit, karena jatuh, atau ada tindak pidana lain, itu harus dibuktikan secara ilmiah,” ujar Mira.
Mira menilai kasus ini berpotensi masuk dalam ranah Undang-Undang Penghapusan KDRT, mengingat relasi antara ayah, ibu, anak, maupun ibu tiri termasuk dalam lingkup tersebut.
Ia juga menyinggung adanya riwayat dugaan kekerasan sebelumnya. NS disebut pernah menjadi korban pemukulan dan kasusnya sempat dilaporkan ke kepolisian di wilayah Sukabumi, namun berakhir dengan mediasi dan pencabutan laporan.
“Riwayat ini seharusnya bisa menjadi pintu masuk bagi penyidik untuk menelusuri lebih jauh,” katanya.
Sebelum meninggal dunia, Nizam disebut sempat menunjuk ke arah ibu tirinya dan mengatakan bahwa dirinya dipukul serta dicekoki air panas.
“Secara psikologis, dalam kondisi kritis, anak seusia itu kecil kemungkinan mengarang cerita. Itu pernyataan spontan yang patut didalami,” ujar Mira.
Saat ini, pihak kuasa hukum belum berkoordinasi langsung dengan Polres Sukabumi karena surat kuasa baru diterima satu hari sebelumnya. Namun, Mira memastikan akan segera berkomunikasi dengan aparat penegak hukum.
Sebagai kuasa hukum, ia menyatakan akan mendampingi Lisnawati ke berbagai instansi, menyerahkan bukti dan saksi bila diperlukan, serta mengawal proses hukum secara aktif.
“Kematian memang takdir, tetapi kondisi anak ini membuat ibunya syok berat dan tidak menerima begitu saja. Kami akan terus mencari keadilan dan meminta proses yang transparan,” tegasnya.
Mira juga menyampaikan apresiasi kepada insan pers yang telah membantu mengawal kasus tersebut agar menjadi perhatian publik.
“Kami percaya aparat akan bekerja profesional dan transparan. Harapannya, kebenaran bisa terungkap dan memberikan keadilan bagi almarhum NS serta keluarganya,” pungkasnya.
Kata Ayah Korban
Anwar belum memberikan pernyataan terkait dugaan KDRT itu. Sejauh ini ia hanya mengungkapkan duka atas peristiwa ini.
“Sampai kemarin saya pulang dari Sukabumi saya kasih uang Rp 50 ribu. Dia bilang alhamdulillah buat bekal di pesantren. Itu yang membuat saya sakit karena dia ingin jadi kiai,” ujar dia, Minggu (22/2).

















































































































