Menurut Lukman, mobil yang digunakan pelaku adalah Toyota Alphard, sedangkan barcode terdaftar untuk Toyota Kijang meski nomor pelatnya sama.
Setelah diberitahu hal tersebut, pelaku malah marah-marah dan menyuruhnya kembali ke kantor untuk bertanya ke staf lain.
“Langsung saya rame-rame ke sini sama staf kan. Pas nanya ke staf, langsung kan diinterogasi sama dia. ‘Kamu ngelihat enggak ini barcode-nya sama?’ kata dia gitu kan. Nah, barcode-nya sama, cuma kan pelatnya beda,” sambung dia.
Saat dikonfirmasi, pelaku justru mengintimidasi petugas dan mengeklaim kendaraan tersebut milik seorang jenderal
“Kalau dari oknum polisi dia bilang sendiri sih, Kak. Dia bilangnya kan pas kita barcode-nya beda dia bilang, ‘Kamu tahu enggak ini barcode-nya Jenderal?’. Dia bilang kayak gitu,” ucapnya.
Lukman menegaskan, petugas menjalankan prosedur operasional standar (SOP) Pertamina. Kendaraan dengan barcode yang tidak sesuai, tidak diperbolehkan mengisi Pertalite.
Meski begitu, pelaku tetap emosi dan mulai melakukan kekerasan.
“Enggak lama tuh staf saya didorong, dijedotin di mobilnya dia, mobil Alphard. Nah, pas dijedotin dia diomelin tuh sama cewek di dalam mobil, ‘jangan kaya gitu’ saya dengernya,” kata Lukman.
“Enggak lama supirnya masukin mobil, disuruh sama nggak tahu disuruh sama pelakunya, langsung ditampar staf saya sama dia. Kayak ngajakin ribut gitu,” lanjut dia.

















































































































