Pengamat hubungan internasional menilai skala serangan terhadap puluhan pangkalan sekaligus menunjukkan perubahan pendekatan militer Iran.
Jika sebelumnya Teheran cenderung melakukan serangan terbatas melalui kelompok proksi di kawasan, kali ini Iran dinilai tampil lebih terbuka dengan operasi militer langsung berskala regional.
Langkah tersebut meningkatkan risiko konflik meluas menjadi perang kawasan yang melibatkan banyak negara.
Negara-negara Teluk kini berada dalam posisi sulit: di satu sisi menjadi sekutu keamanan Amerika Serikat, namun di sisi lain wilayah mereka berpotensi menjadi medan konfrontasi langsung antara Washington dan Teheran.
Kekhawatiran global juga meningkat terhadap stabilitas jalur energi dunia.
Kawasan Teluk merupakan pusat distribusi minyak internasional, dan setiap eskalasi militer berpotensi mengganggu rantai pasok energi global.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat memicu lonjakan harga minyak serta tekanan ekonomi global, termasuk di negara-negara pengimpor energi.
Seruan deeskalasi mulai disampaikan berbagai negara dan organisasi internasional.
Diplomasi darurat diperkirakan akan menjadi faktor penentu dalam beberapa hari ke depan, terutama untuk mencegah aksi balasan lanjutan yang dapat menyeret kawasan ke konflik berskala penuh.
Hingga Minggu malam waktu setempat, situasi keamanan di negara-negara Teluk masih berada dalam status siaga tinggi.
Militer Amerika Serikat dilaporkan memperkuat sistem pertahanan di berbagai pangkalan regional, sementara Iran memberi sinyal bahwa operasi militernya belum tentu berakhir.
Perkembangan ini menandai fase baru ketegangan Timur Tengah, di mana konflik tidak lagi berlangsung secara tidak langsung melalui aktor proksi, melainkan berisiko berubah menjadi konfrontasi terbuka antarnegara besar sebuah skenario yang selama bertahun-tahun berusaha dihindari komunitas internasional































































































