Menurut analisis The Diplomat, salah satu potensi keuntungan terletak pada dampaknya terhadap rantai pasokan masa perang Rusia. Baik Iran maupun Korea Utara telah berperan sebagai pemasok penting peralatan militer yang mendukung upaya perang Rusia di Ukraina, termasuk rudal, drone, dan amunisi.
Jika Iran terpaksa menggunakan sebagian besar persenjataannya untuk upaya perangnya sendiri, hal ini dapat menciptakan kesenjangan pasokan yang mungkin bersedia diisi oleh Korea Utara. Dalam skenario tersebut, konflik Iran-Israel-AS dapat meningkatkan ketergantungan Rusia pada Pyongyang, memperkuat pengaruh Korea Utara terhadap Moskow.
Pada saat yang sama, krisis ini juga menyoroti potensi risiko bagi Korea Utara, khususnya mengenai keandalan Rusia sebagai mitra keamanan.
Baik Iran maupun Korea Utara telah memperkuat hubungan formal dengan Moskow dalam beberapa tahun terakhir. Korea Utara menyimpulkan Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif dengan Rusia pada Juni 2024, sementara Iran menandatangani perjanjian serupa pada Januari 2025.
Namun, sejauh ini, Moskow membatasi tanggapannya terhadap konflik saat ini hanya pada kecaman diplomatik terhadap serangan tersebut, hanya menyatakan bahwa mereka tetap dalam “komunikasi konstan” dengan kepemimpinan Iran.
Keengganan Rusia untuk menawarkan dukungan militer konkret di luar pernyataan Politik telah memicu klaim bahwa Teheran pada dasarnya telah ditinggalkan tanpa dukungan berarti dari sekutunya.































































































