BANDA ACEH – Insiden penenggelaman fregat milik Angkatan Laut Iran, IRIS Dena, oleh kapal selam Amerika Serikat di Samudra Hindia, sekitar 75 km lepas pantai selatan Sri Lanka, pada Rabu (4/3/2026) pagi, memicu gelombang kecaman keras terhadap India. Banyak pihak, termasuk netizen, media sosial, dan beberapa kalangan di Iran, menuding New Delhi sebagai “pengkhianat” karena kapal tersebut baru saja menjadi tamu Angkatan Laut India dalam latihan multilateral.Menurut konfirmasi resmi dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, sebuah kapal selam serang bertenaga nuklir AS menembakkan torpedo berat Mark 48 ke fregat kelas Moudge IRIS Dena. Hegseth menyebut serangan itu sebagai “kematian senyap” dan menjadi penenggelaman pertama kapal musuh oleh torpedo AS sejak Perang Dunia II. Rekaman video serangan tersebut telah dirilis oleh Departemen Pertahanan AS.
IRIS Dena, yang membawa sekitar 130–180 awak, tenggelam setelah mengikuti latihan MILAN 2026 di Teluk Benggala, Visakhapatnam, India, pada akhir Februari 2026. Kapal tersebut sedang dalam perjalanan pulang ke Iran ketika mendapat serangan di perairan internasional. Angkatan Laut Sri Lanka yang merespons panggilan darurat berhasil menyelamatkan 32 pelaut, sementara 87 jenazah telah ditemukan hingga Kamis pagi, dan lebih dari 100 lainnya masih dinyatakan hilang.
Iran langsung mengecam keras aksi AS. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebutnya sebagai “kekejaman di laut” dan menegaskan bahwa fregat tersebut “diserang tanpa peringatan di perairan internasional, sekitar 2.000 mil dari pantai Iran”. Ia juga menyoroti fakta bahwa IRIS Dena baru saja menjadi “tamu Angkatan Laut India”.
Kecaman paling keras justru tertuju pada India. Di media sosial, terutama di platform X dan Instagram, tagar seperti #IndiaBetrayal dan #PengkhianatIndia ramai digunakan. Banyak netizen menuding bahwa India telah memberikan informasi intelijen kepada AS mengenai rute dan posisi kapal Iran, sehingga memudahkan serangan. Beberapa akun bahkan menyebut insiden ini sebagai “pengkhianatan tingkat rendah yang keji” karena India mengundang kapal Iran sebagai tamu, lalu “membiarkannya dibantai di dekat wilayahnya sendiri”.
Duta Besar Iran untuk India dilaporkan menyatakan kekecewaannya karena pemerintah Modi “tidak memberikan sepatah kata pun” atau komunikasi resmi pasca-insiden. “Kapal kami dijamu, diparadekan, lalu dibunuh di perairan dekat India. Tidak ada pesan dari New Delhi. Ini perbudakan modern kepada Washington,” ujarnya kepada wartawan.






























































































