Saat ini, kata Shanaz, Kurdi Irak sudah merasakan perdamaian yang diinginkan. Mereka telah memasuki masa stabilitas yang dapat menghidupi serta memberikan martabat dalam kehidupan seluruh Suku Kurdi. “Oleh karena itu, kami sangat sulit menerima, bahkan mustahil bagi kami orang-orang Kurdi untuk menerima diperlakukan kembali seperti pion-pion oleh negara-negara adidaya dunia (AS),” kata dia.
Pengalaman pahit dari masa lalu, dan tabiat politik yang tak pernah lurus dalam memanfaatkan Suku Kurdi, membuat Shanaz meminta kepada semua pihak yang terlibat dalam peperangan antara AS-Israel dengan Iran tak menyeret Kurdi ke palagan perang.
“Pengalaman itu masih ada. Janji-janji kosong itu masih ada. Terlalu sering Kurdi hanya diingat ketika kekuatan atau pengorbanan mereka dibutuhkan. Karena alasan itu, saya memohon kepada semua pihak yang terlibat dalam konflik dan peperangan ini. Biarkan Kurdi hidup dalam ketenangan. Kami orang-orang Kurdi bukan tentara bayaran,” ujar Shanaz.
Penyampaian terbuka Shanaz itu, menyusul spekulasi internasional menyangkut peperangan yang saat ini membesar di kawasan Timur Tengah akibat agresi Zionis Israel-AS ke wilayah Iran.
Belakangan peperangan tersebut berlanjut dengan rencana Presiden AS Donald Trump untuk memberikan pendanaan dan mempersenjatai Suku Kurdi yang berbasis di perbatasan antara Irak dan Iran.
Dalam perangnya dengan Iran kali ini, Trump sulit mendapatkan persetujuan dari Kongres AS untuk pengerahan tentara resminya. Itu dilakukan demi menghindari korban jiwa yang signifikan di pihak AS.
Karena itu, Trump melalui kontak Badan Intelijen Luar Negeri AS (CIA) memberikan proposal kepada dua faksi Kurdi terbesar di Irak dan Iran dari kelompok Masoud Barzani dan Bafel Talabani untuk mengerahkan tentara Kurdi masuk ke wilayah Iran.
Tujuannya agar Suku Kurdi berada di pihak AS dan Israel untuk melakukan perang darat menyerbu tentara Iran yang hingga kini masih melakukan perlawanan sampai ke negara-negara di Teluk Arab.
Misi yang disampaikan Trump kepada kelompok bersenjata Kurdi, yaitu penggulingan pemerintahan teokrasi yang hingga kini masih berkuasa di Teheran. Trump dikabarkan sudah melakukan komunikasi dan kontak langsung dengan dua kelompok Kurdi bersenjata tersebut. Militer Iran, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengetahui rencana tersebut, dan mulai melakukan pengeboman di wilayah-wilayah Kurdi di perbatasan negara itu.






























































































