MEDAN – Sub Recipient Manager Yayasan Mentari Meraki Asa (YMMA) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Zubaidah Pohan, mengatakan peran komunitas dalam penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia menjadi sangat penting baik dalam penemuan kasus maupun pendampingan pasien sampai selesai pengobatan. Komunitas juga turut berkontribusi dalam upaya eliminasi Tuberkulosis 2030.
Baca juga: DPRA Dukung Penuh Rencana Pemindahan Rohingya dari Aceh
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi Narasumber Webinar Nasional Problematika Eliminasi Tuberkulosis 2030 yang diselenggarakan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Provinsi Sumatera Utara secara virtual, Sabtu (1/4/2023).
“Penanggulangan tuberkulosis tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Namun harus bekerja sama dan kolaborasi seluruh pihak untuk mewujudkan upaya eliminasi tuberkulosis tahun 2030. Komunitas juga punya peran penting seperti penemuan kasus, pencegahan, pendampingan, dan advokasi pihak terkait untuk menguatkan upaya bersama,” kata Zubaidah.
Baca juga: Cahaya Aceh Gelar Daurah Ramadan Gratis
Ia juga mengapresiasi pemerintah yang telah mengeluarkan Peraturan Presiden No.67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis sebagai langkah strategis untuk secara bersama menuntaskan masalah TBC tersebut. Ia mengatakan ada 5 strategi yang dilakukan komunitas.
“Peran komunitas tertulis jelas pada 5 strategi yakni memberdayakan masyarakat dengan mengintensifkan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) terutama pada pencegahan TBC. Koordinasi intens kepada pemerintah, meningkatkan mekanisme umpan balik masyarakat tentang kualitas layanan TBC, memastikan tanggapan terhadap umpan balik dari masyarakat terutama mereka yang terkena TBC, dan mengurangi stigma dan diskriminasi pada populasi yang terpengaruh TBC atau mereka yang berisiko tinggi terhadap TBC,” lanjutnya.
Zubaidah juga mengatakan YMMA Sumatera Utara sejak 2021 hingga kini terus berupaya penuh melaksanakan penanggulangan TBC berbasis komunitas di 10 Kab/Kota se Sumatera Utara.
“Kegiatan investigasi kontak merupakan salah satu upaya aktif yang dilakukan oleh komunitas dalam meningkatkan penemuan kasus TBC dan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat. YMMA pada tahun 2022 telah melakukan investigasi kontak di lebih dari 9000 orang. Hal tersebut kemudian kita laporkan dan dampingi untuk melakukan pengobatan di fasyankes terdekat,” lanjutnya.
Di 2023 ini menurut Zubaidah, YMMA akan terus meningkatkan kapasitasnya dan mendukung upaya pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan dalam mewujudkan eliminasi TBC terutama pentingnya Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
































































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…