Penulis: Sudrajat**
Punya banyak akal, serba bisa, dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan. Demikian salah satu kesimpulan yang bisa dipetik dari kesaksian para sahabat, kolega, dan keluarga terdekatnya tentang sosok Luhut Binsar Pandjaitan. Kesaksian mereka tertuang dalam buku ‘Luhut Binsar Panjaitan Menurut Kita-kita’ karya Peter F. Gontha dan Mahpudi yang diluncurkan pada 28 September 2023.
Buku terbitan Gramedia ini melengkapi buku biografi ‘Luhut” dari adiknya, Kartini Sjahrir. Buku yang ditulis Noorca Massardi itu diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Kedua buku tersebut seolah melengkapi informasi tentang Luhut seperti terselip dalam buku ‘Mengawal Integrasi, Mengusung Reformasi’ yang terbit pada 2013.
Saya pribadi pernah dua kali berinteraksi langsung dengan Jenderal Luhut. Pertama saat menemani Pak Ishadi SK dan Wahyu Daniel bertandang ke kantornya terkait urusan CNBC Indonesia pada awal 2018. Lalu pada pertengahan Juli di tahun yang sama mewawancarainya untuk program Blak-blakan. Dia pejabat yang efisien. Tak terlalu suka basa-basi. Menjawab pertanyaan dengan straight, cenderung nyablak khas orang Batak.
Saat mendapati buku ini di Gramedia Pejaten Village, saya tergoda oleh petikan kesaksian Sandiaga S. Uno di sampul belakang. Di situ digambarkan sikap Luhut saat memveto keputusan Prabowo yang begitu saja menyetujui restrukturisasi PT Kiani Kertas di Kalimantan atas saran Sandiaga yang kala itu bersama Rosan P. Roeslani menjadi penasihat keuangan di bawah bendera Recapital.
Sebagai Komisaris, Luhut dan Hendropriyono yang masuk ke ruangan presentasi belakangan langsung merespons dengan suara menggelegar. “Wo…gila lu. Lu kasih mayoritas. Tidak bisa…gua tidak setuju!”. Mendengar penolakan yang mengentak tersebut, Sandiaga mengaku, “saya hampir kencing di celana.” Usulan proyek restrukturisasi tersebut pun gagal.
Untuk diketahui, setelah berhenti dari dunia ketentaraan pada 1998, Prabowo terjun ke dunia bisnis di Yordania dengan skala bisnis besar. Pada 2004 Prabowo mengelola PT Kiani, perusahaan pengolahan kertas dan bubur kertas. Perusahaan yang tengah terlilit kredit macet di Bank Mandiri dibelinya dari Bob Hasan itu atas restu Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Dari 420 halaman buku ini, berisi testimoni dari 79 tokoh. Namun, Prabowo Subianto tak termasuk di dalamnya. Hanay saja saat penyerahan buku di acara ulang tahun ke-76 Luhut, dia mengakui hubungannya dengan mantan atasannya itu ibarat ‘Tom dan Jerry”. Dia sering beda pendapat dengan Luhut, apalagi sama-sama punya karakter keras sebagai bentukan pendidikan militer.
















































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler