BANDA ACEH – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh menyoroti pengelolaan perikanan karang dan demersal yang berkelanjutan di Selat Benggala, menyusul temuan bahwa tiga spesies ikan berada dalam status “over exploited” atau dieksploitasi berlebihan.
Hal ini disampaikan dalam sebuah acara monitoring dan evaluasi pada Kamis, (31/07/2025).
Kepala DKP Aceh, Aliman, menjelaskan bahwa pengelolaan perikanan berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan menjaga sumber daya ikan.
Namun, data dari tahun 2019-2023 menunjukkan tantangan besar, termasuk tingginya intensitas penangkapan ikan dan penggunaan metode yang merusak.
“Praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, seperti penggunaan bahan peledak dan racun, serta penangkapan ikan berukuran kecil atau juvenile, menjadi penyebab utama menurunnya stok ikan,” kata Aliman.
Penelitian yang disampaikan oleh Adrian Damora dari Forum Ilmiah menambahkan bahwa satu spesies ikan, yaitu Kuwe Gerong (Caranx ignobilis), berada dalam kondisi over exploited. Lima spesies lainnya, termasuk Kerapu Karang dan Kakap Merah, juga berstatus fully-exploited atau dieksploitasi penuh.
Penurunan ini diperparah oleh dominasi penangkapan ikan kecil menggunakan alat tangkap tertentu. Adrian juga mencatat bahwa data tahun 2024 menunjukkan penurunan Catch per Unit of Effort (CPUE) atau tangkapan per unit upaya, menandakan semakin sedikitnya ikan yang berhasil ditangkap per perjalanan.
Untuk mengatasi permasalahan ini, DKP Aceh mengajukan sejumlah rekomendasi, antara lain:
- Memastikan selektivitas alat tangkap untuk mengurangi penangkapan ikan kecil.
- Memprioritaskan pengelolaan pada spesies yang sudah dieksploitasi berlebihan.
- Meningkatkan sosialisasi aturan dan kebijakan pengelolaan perikanan yang sudah ditetapkan.
- Menguatkan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.
- Mengoptimalkan perizinan kapal dan meningkatkan pengawasan terhadap praktik penangkapan ilegal.
Sesi diskusi dalam acara tersebut difasilitasi oleh Azwar Thaib, seorang pakar di bidang kelautan. Diskusi tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang akan ditindaklanjuti bersama.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan instansi pemerintah terkait, akademisi dari universitas terkemuka, hingga pemimpin masyarakat lokal seperti Panglima Laot. Keterlibatan berbagai pihak ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mewujudkan pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan di Selat Benggala.
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Berita Terpopuler