BANDA ACEH – Pulau Buru mungkin lebih dikenal sebagai penghasil minyak kayu putih, tapi di balik ketenangannya tersimpan sebuah rahasia alam yang menakjubkan. Pulau Buru adalah sebuah pulau di Provinsi Maluku, Indonesia.
Di pesisir Kecamatan Fena Leisela, terhampar pantai sepanjang 14 kilometer yang menjadi saksi bisu kelahiran raksasa laut purba: penyu belimbing. Setiap tahun, penyu-penyu raksasa ini menempuh ribuan kilometer untuk kembali ke rumahnya demi melanjutkan keturunan.
Pantai ini merupakan situs peneluran penyu belimbing terbesar kedua di Indonesia, hanya kalah dari Jeen Womom di Papua Barat. Selain penyu belimbing, area ini juga menjadi habitat penting bagi penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik.
Masyarakat setempat menyebut penyu belimbing sebagai teteruga salawaku, yang berarti penyu perisai. Nama ini terinspirasi dari pola di tempurung penyu yang menyerupai perisai tradisional Maluku, salawaku.
Namun, hubungan antara manusia dan penyu di sini tidak selalu harmonis. Dulu, perburuan telur dan induk penyu merupakan hal yang lumrah. Warga bahkan percaya bahwa telur penyu dapat meningkatkan stamina dan vitalitas.
Kisah kelam ini mencapai puncaknya pada tahun 1970-an ketika pemburu dari Pulau Haruku datang dan mengolah daging penyu menjadi dendeng untuk dijual. Untungnya, perburuan ini tidak berlangsung lama karena warga yang geram dengan bau busuk bangkai penyu akhirnya mengusir mereka.
Dari Perburuan menjadi Perlindungan
Titik balik datang pada tahun 2017. WWF-Indonesia bersama otoritas lokal memulai upaya konservasi dengan dukungan dari WWF-US dan NOAA. Edukasi dan dialog dengan masyarakat menjadi kunci, meski awalnya mendapat perlawanan. Para petugas WWF dilempari batu, dihalang-halangi, dan diintimidasi, namun komitmen mereka tak goyah.
Perlahan, kesadaran mulai tumbuh. Masyarakat Fena Leisela menyadari pentingnya menjaga penyu sebagai bagian dari ekosistem laut yang sehat. Puncaknya, sejak 2021, empat desa pesisir—Wamlana, Waspait, Waekose, dan Waenibe—mengeluarkan peraturan desa yang melarang segala bentuk pemanfaatan penyu.
Hasilnya sungguh luar biasa. Tingkat pencurian sarang penyu yang sebelumnya mencapai 94% turun drastis. Selama dua tahun terakhir, angka pencurian bahkan mencapai 0%. Dengan rata-rata 199 sarang penyu belimbing setiap tahun, upaya konservasi ini berhasil menjaga kelangsungan hidup raksasa laut ini.
Kini, cerita penyu di Pulau Buru bukanlah tentang perburuan, melainkan tentang harapan. Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Sugiraja Watulu yang dibentuk pada 2021 secara aktif mengawasi ekosistem pesisir. Upaya kolektif ini membuktikan bahwa konservasi adalah gerakan bersama.
Harapan itu kini nyata, bahwa suatu saat, pantai Fena Leisela bisa menjadi pusat percontohan konservasi penyu belimbing.
Semoga anak cucu kita kelak masih bisa menyaksikan teteruga salawaku kembali ke pantai, bertelur di bawah cahaya bulan. Penyu belimbing tidak lagi dijegal, melainkan dijaga.































































































PALING DIKOMENTARI
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Buni Yani: Gugatan Ijazah SMA…
KOMENTAR
Semoga tidak ada kaitannya dengan Bobby Nasution
Innalillahi wainna ilaihi raji'un.. semoga kehadiran negara dalam bencana bisa…
In sya Allah, tetap rakyat yang akan menanggung nya. Hahahaha...
Kita do'akan semoga kejaksaan bisa menangkap Buronan satu ini.
Hahaha. tingkat khayalan NASA merusak akal sehat umat manusia. NASA…