ACEH BESAR – Suasana hangat penuh kebersamaan mewarnai Gampong Mon Ikeun, Lhoknga, Aceh Besar, pada Kamis (14/8/2025).
Flower Aceh bersama mahasiswa magang dari Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UIN Ar-Raniry sukses menggelar Sharing Session bertajuk “Srikandi Siaga: Perempuan Pelindung Generasi Saat Bencana”.
Kegiatan ini menjadi wadah penting bagi para perempuan di Mon Ikeun untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana.
Sebanyak 25 peserta yang seluruhnya ibu-ibu menghadiri kegiatan ini. Mereka duduk melingkar, saling menatap hangat, siap mendengarkan cerita sekaligus menyampaikan pandangan.
Acara dimoderatori oleh Asma Fitri yang juga merupakan salah satu dari tiga mahasiswa magang PMI UIN Ar-Raniry, bersama dua rekannya, Khaira Nafisa dan Rahmatal Riza, yang bertindak sebagai pemantik diskusi.
Sementara itu, Sitty Almatunira, staf lapangan Flower Aceh, turut hadir sebagai penanggap diskusi, memberikan perspektif tambahan dan memperkaya isi pembahasan.
Momen penuh emosi tersaji ketika salah satu peserta membagikan kisahnya saat tsunami Aceh 2004. Ia mengingat, pagi itu dirinya sedang bersiap berangkat ke pelatihan teater dari sekolah. Tiba-tiba gempa besar mengguncang. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengajak adiknya berlari menuju masjid terdekat sebagai tempat berlindung. Mereka memanjat ke atap, dan dari ketinggian itu, ia menyaksikan pemandangan memilukan: rumah-rumah di sekitar telah rata dengan tanah, tersapu oleh gelombang besar yang datang menerjang. Kisah ini membuat suasana hening sejenak, banyak peserta yang menghela napas panjang, mengingat kembali trauma yang pernah dialami.
Trauma itu ternyata masih membekas hingga kini. Seorang ibu menceritakan bagaimana dirinya sempat duduk termenung di depan rumah, menatap ombak laut. Meskipun ombak itu sebenarnya jauh, ia merasa seolah sangat dekat dan mengancam. Perasaan cemas itu datang tiba-tiba, seakan tubuh dan pikirannya masih mengingat peristiwa kelam puluhan tahun lalu.
Cerita lain datang dari seorang ibu yang harus tetap berjualan di dekat pantai demi menghidupi keluarga, meskipun rasa takut masih sering menghantui.
“Mau bagaimana lagi, kalau tidak jualan di situ, saya tidak punya penghasilan. Walaupun takut, saya harus kuat,” ungkapnya.
Kisah ini menggambarkan betapa perempuan tidak hanya berjuang melawan trauma, tetapi juga menghadapi tuntutan ekonomi yang memaksa mereka bertahan di wilayah yang rawan bencana.
Rahmatal Riza dalam penyampaiannya menekankan bahwa peran ibu dalam mitigasi bencana tidak bisa dianggap remeh.
“Ibu adalah garda terdepan dalam memastikan anak-anak tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana datang. Pengetahuan, ketenangan, dan kesiapan yang dimiliki ibu akan sangat menentukan keselamatan keluarga,” ujarnya dengan tegas.
Di akhir diskusi, Khaira Nafisa menyampaikan kesimpulan bahwa peristiwa tsunami membawa pelajaran besar bagi semua pihak.
“Dengan adanya tsunami, kita jadi sadar betapa pentingnya pengetahuan dan kesiapan menghadapi bencana. Ini bukan hanya soal menyelamatkan diri, tetapi juga melindungi orang-orang yang kita cintai. Kita harus punya rencana evakuasi yang jelas, saling menjaga, dan tidak panik ketika situasi darurat terjadi,” ungkapnya.
Sitty Almatunira sebagai penanggap juga menambahkan bahwa perempuan memiliki potensi besar menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Menurutnya, keterlibatan perempuan dalam perencanaan dan pelaksanaan mitigasi bencana akan membuat komunitas lebih tangguh.
“Perempuan bukan hanya korban yang menunggu bantuan. Mereka bisa menjadi pelopor perubahan, pelindung generasi, dan penggerak solidaritas sosial,” katanya.
Kegiatan ini tidak hanya membahas aspek teknis kesiapsiagaan bencana, tetapi juga menguatkan hubungan sosial antar warga. Diskusi santai namun berbobot ini diwarnai tawa, cerita, dan refleksi bersama. Flower Aceh berharap, melalui forum-forum seperti ini, perempuan semakin percaya diri untuk mengambil peran aktif dalam menjaga keselamatan keluarga dan komunitasnya.
“Kesadaran, pengetahuan, dan kesiapsiagaan yang dimiliki perempuan adalah modal penting bagi keselamatan bersama. Dengan berbagi cerita dan saling menguatkan, kita membangun komunitas yang lebih tangguh menghadapi ancaman bencana,” tutup perwakilan Flower Aceh.































































































PALING DIKOMENTARI
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Buni Yani: Gugatan Ijazah SMA…
KOMENTAR
Semoga tidak ada kaitannya dengan Bobby Nasution
Innalillahi wainna ilaihi raji'un.. semoga kehadiran negara dalam bencana bisa…
In sya Allah, tetap rakyat yang akan menanggung nya. Hahahaha...
Kita do'akan semoga kejaksaan bisa menangkap Buronan satu ini.
Hahaha. tingkat khayalan NASA merusak akal sehat umat manusia. NASA…