JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan.
Analis kebijakan pemerintah dan pemerhati sosial, Nasky Putra Tandjung, dengan tegas menolak penghentian program ini, meski belakangan muncul narasi negatif terkait insiden keracunan yang menimpa sejumlah siswa sekolah.
Nasky menilai, narasi yang menyerukan penghentian program tersebut sangat tendensius, bernuansa politis, serta tidak objektif dan konstruktif dalam menilai peristiwa secara menyeluruh.
“Seyogianya kita mendorong pemerintah, khususnya Badan Gizi Nasional (BGN), untuk melakukan mitigasi dan evaluasi mendalam secara menyeluruh terhadap proses produksi MBG hingga penyaluran ke sekolah-sekolah,” kata Nasky dalam keterangannya di Jakarta, pada Jumat (26/9/2025).
Audit Menyeluruh BGN dan Dugaan Kelalaian Penyelenggara
Nasky mendesak BGN segera melakukan evaluasi komprehensif untuk mengidentifikasi titik permasalahan dan penyebab insiden keracunan.
“Apakah karena rantai pasok dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke sekolah terlalu panjang, ada kelalaian, atau bahkan unsur kesengajaan dari oknum yang ingin merusak citra positif Presiden Prabowo?” tanyanya.
Data dari BGN menunjukkan bahwa Program MBG telah menjangkau 29,8 juta penerima manfaat di 8.018 SPPG yang beroperasi di seluruh Indonesia. Dari 9.230 SPPG yang terverifikasi, 8.018 sudah operasional dan 1.212 sedang dalam persiapan operasional.
Program ini juga diklaim menciptakan 290 ribu lapangan kerja baru di sektor dapur umum serta melibatkan sekitar 1 juta petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM.
Namun, Nasky juga mengutip data dari Kepala Staf Presiden (KSP), Muhamad Qodari, yang menyebutkan bahwa dari sekitar 8.549 dapur SPPG, hanya 34 yang memiliki Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) hingga 22 September 2025.
Selain itu, dari 1.379 SPPG, hanya 423 yang memiliki Prosedur Operasi Standar (SOP) keamanan pangan, dan bahkan hanya 312 yang benar-benar menerapkannya.
“Ini jelas ada sebuah kelalaian. Meskipun kita tahu BGN pasti punya problem SDM terbatas untuk pengawasan, itu bukan pembenaran yang mentolerir terjadinya keracunan massal.
Mana sikap tegas penyelenggara?” tegas Founder Nasky Milenial Center ini.
MBG: Investasi Strategis untuk Generasi Emas Indonesia
Nasky, alumnus Indef School of Political Economy (ISPE) Jakarta, menegaskan bahwa MBG adalah program mulia Presiden Prabowo.
Ia melihat MBG sebagai investasi jangka panjang untuk menciptakan anak-anak bangsa yang sehat, unggul, dan cerdas dari akar paling dasar.
“MBG bukan sekadar program sosial, tetapi investasi untuk mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Ini adalah ‘investasi terbaik sebuah bangsa’ dan program mulia dari Presiden Prabowo dalam mengatasi kesenjangan gizi para siswa. Presiden ingin seluruh anak Indonesia mendapat asupan gizi yang baik menuju bangsa Indonesia ke depan yang sehat dan cerdas,” imbuhnya.



















































































































Benarkah akan dievaluasi?