Oleh: Rosadi Jamani
PENGGEMAR Politik, ngumpul di sini. Kita hidup selalu dipengaruhi politik. Perlu diketahui, Januari 2026, awal tahun sudah lahir dua parpol baru. Gema Bangsa dan Gerakan Rakyat. Total negeri ini sudah memiliki 78 parpol.
Indonesia membuka kalender 2026 bukan dengan doa awal tahun, melainkan dengan ulek-ulekan politik skala nasional.
Belum sempat rakyat menimbang resolusi hidup sehat, Januari sudah menyodorkan dua sambal baru ke meja demokrasi, Partai Gema Bangsa dan Partai Gerakan Rakyat.
Negeri berpenduduk 270 juta jiwa ini tampaknya bukan kekurangan masalah, tapi kelebihan resep partai, seperti rumah makan Padang yang punya 78 jenis sambal tapi pelanggan tetap ribut soal rendang.
Tanggal 17 Januari 2026, di JCC Senayan, Partai Gema Bangsa dideklarasikan dengan dentuman seremoni yang tak kalah heboh dari pesta gol.
Hari itu memang spesial. Di belahan bumi lain, Manchester United menaklukkan Manchester City 2–0 di Old Trafford. Dua gol, dua partai, dua rasa pedas.
Semesta seperti sedang sinkron. Dipimpin Ahmad Rofiq, mantan Sekjen Perindo, Gema Bangsa datang membawa sambal terasi mangga muda. Asam, pedas, dan penuh klaim menyegarkan. Visinya digiling halus, Indonesia Mandiri, Desentralisasi Politik, Indonesia Reborn.
Ini seakan tiga cabai rawit kosmik yang siap membakar lidah wacana publik. Mereka mengaku sebagai wadah rakyat yang muak dengan politik transaksional, sambil dengan mantap menyatakan dukungan kepada Prabowo Subianto untuk Pilpres 2029. Ini seperti mengaku anti gorengan, tapi pesan tahu isi satu lusin.
Sehari setelah euforia itu, 18 Januari 2026, giliran Partai Gerakan Rakyat muncul dari Hotel Arya Duta Menteng, Jakarta Pusat.
Kalau Gema Bangsa itu sambal terasi, Gerakan Rakyat adalah sambal matah politik. Segar, berisik, dan irisan tokohnya kelihatan dari jauh.
Dipimpin Sahrin Hamid dengan M. Ridwan sebagai Sekjen. Partai ini berevolusi dari ormas sejak 2023, diputuskan lewat Rakernas I (17-18 Januari 2026) dengan musyawarah mufakat plus e-voting, biar terasa demokratis dan kekinian.
Panggungnya semakin panas ketika Anies Baswedan hadir sebagai anggota kehormatan. Ia memberi orasi kebangsaan, dan diproyeksikan sebagai menu utama. Tanpa saus rahasia, tanpa kode keras, sambal ini dari awal sudah berlabel “Anies”.
Publik pun menyaksikan dua sambal disajikan berurutan. Yang satu pedasnya filosofis, yang satu pedasnya personal. Yang satu bicara Indonesia Reborn, yang satu langsung menunjuk calon presiden.
Semua itu terjadi di negara yang, berdasarkan data Ditjen AHU Kemenkum per September 2024, sudah memiliki 76 partai politik terdaftar. Tambah dua di Januari 2026, genaplah 78 parpol resmi. Angka yang lebih cocok jadi katalog festival sambal Nusantara ketimbang daftar ideologi bangsa.





























































































