BANDA ACEH – Selama Ramadhan, banyak orang khawatir puasa bisa menyebabkan kepala pusing saat bekerja, atau memicu emosi tak stabil, sulit fokus, hingga menurunkan produktivitas.
Keadaan serba sulit karena nggak makan juga diperkuat dengan iklan makanan yang membawa pesan “kamu bukan dirimu saat lapar”, seolah makan adalah isyarat mutlak agar otak tetap tajam.
Namun di sisi lain, pola makan time-restricted eating dan puasa justru semakin populer dalam satu dekade terakhir. Bukan cuma umat muslim yang puasa, jutaan orang menjalaninya demi manfaat jangka panjang, mulai dari menjaga berat badan hingga meningkatkan kesehatan metabolik.
Lantas, apakah mungkin kita mendapatkan manfaat kesehatan dari puasa tanpa mengorbankan ketajaman mental?
Pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh David Moreau, Associate Professor of Psychology di University of Auckland, Waipapa Taumata Rau, dan timnya melalui tinjauan ilmiah paling komprehensif sejauh ini tentang dampak puasa terhadap kinerja kognitif.
Puasa bukan sekadar tren diet. Secara biologis, praktik ini berkaitan dengan sistem adaptasi tubuh manusia yang telah berkembang selama ribuan tahun untuk menghadapi kelangkaan makanan. Saat kita makan secara teratur, otak terutama menggunakan glukosa sebagai bahan bakar, yang disimpan dalam tubuh sebagai glikogen. Namun setelah sekitar 12 jam tanpa asupan makanan, cadangan glikogen mulai menipis.
Pada titik itu, tubuh melakukan peralihan metabolik, memecah lemak menjadi badan keton seperti asetoasetat dan beta-hidroksibutirat, yang kemudian menjadi sumber energi alternatif bagi otak. Fleksibilitas metabolik ini dulunya penting bagi kelangsungan hidup nenek moyang manusia. Kini, mekanisme tersebut dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan.
Salah satunya adalah aktivasi autofagi, yakni proses pembersihan sel yang membantu membuang komponen rusak dan mendaur ulangnya. Proses ini diyakini mendukung penuaan yang lebih sehat.
Dilansir The Conversation, puasa juga meningkatkan sensitivitas insulin, membantu tubuh mengelola gula darah dengan lebih efektif, serta menurunkan risiko penyakit seperti diabetes tipe 2. Selain itu, perubahan metabolik saat puasa disebut dapat mengurangi risiko penyakit kronis yang kerap dikaitkan dengan pola makan berlebihan.
Menurut Data Ilmiah
Meski manfaat fisiknya menjanjikan, banyak orang ragu mencoba puasa karena takut performa mental mereka akan menurun drastis tanpa asupan makanan rutin. Untuk menjawab kekhawatiran ini, Moreau dan tim melakukan meta-analisis, studi yang menggabungkan berbagai penelitian sebelumnya, guna membandingkan kinerja kognitif orang saat berpuasa dan saat kenyang.


























































































































