BANDA ACEH – Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim rudal hipersoniknya menghantam gedung Kementerian Pertahanan (Kemhan) Israel di Tel Aviv, Rabu (4/3/2026).
Serangan ini disebut sebagai bagian dari eskalasi terbaru dalam konflik terbuka antara Teheran dan Tel Aviv.
IRGC menyatakan, dalam serangan gelombang ke-17 Operasi Janji Setia-4, mereka meluncurkan rudal hipersonik dan drone yang diklaim mampu menembus sistem pertahanan udara canggih milik Amerika Serikat, termasuk THAAD.
Menurut pernyataan resmi IRGC, serangan tersebut tidak hanya menyasar gedung Kementerian Pertahanan Israel, tapi juga Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv. Target-target strategis itu disebut berhasil dihantam secara presisi.
“IRGC, selama gelombang ke-17 Operasi Janji Setia-4, meluncurkan serangan rudal hipersonik dan drone menembus sistem THAAD AS serta mengenai target strategis di gedung Kementerian Pertahanan Israel dan Bandara Ben Gurion di Tel Aviv,” bunyi pernyataan, dikutip Kamis (5/3/2026).
Bandara Ben Gurion merupakan gerbang udara utama Israel yang selama ini menjadi salah satu infrastruktur vital negara itu.
Selain itu Iran mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Israel di Dimona, gurun Negev, Shimon Peres Negev Nuclear Research Center. Lokasi ini dikenal sangat dirahasiakan dan diyakini menjadi pusat program nuklir Israel.
Seorang sumber pejabat militer senior Iran mengatakan kepada Iran Nuances, serangan itu akan dilakukan jika Amerika Serikat dan Israel berupaya menggulingkan kekuasaan Teheran.
Disebutkan, rudal efektif tercanggih Iran akan diarahkan ke seluruh infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.
“Ini adalah skenario yang telah kami persiapkan,” ujar pejabat tersebut.
Tak hanya menyerang target di Israel, IRGC juga mengklaim telah menghancurkan tujuh radar canggih milik AS di kawasan, yang disebut membuat “mata AS dan Israel buta” di Timur Tengah.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Israel terkait tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Namun eskalasi terbaru ini memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas, terutama jika ancaman terhadap fasilitas nuklir di Dimona benar-benar direalisasikan































































































