Ketika negara-negara Teluk Arab kehilangan kepercayaan pada komitmen Amerika Serikat (AS) terhadap keamanan mereka, dua musuh bebuyutan Timur Tengah (Timteng) mengambil tindakan sendiri.
Frustrasi dengan apa yang mereka lihat sebagai berkurangnya minat AS dalam masalah keamanan mereka, negara-negara Teluk Arab akhir-akhir ini mulai mengambil tindakan sendiri, menjangkau saingan dan musuh untuk menangkis konflik yang dapat mendatangkan malapetaka pada ekonomi mereka.
Pada Senin (25/3), Iran mengungkapkan bahwa mereka mengadakan pembicaraan putaran kelima dengan Arab Saudi akhir pekan lalu. Menurut juru bicara kementerian luar negeri Iran, negosiasi antara dua kelas berat regional itu progresif dan positif. Arab Saudi belum mengomentari hal tersebut.
Juru bicara kementerian mengatakan pembicaraan sedang berlangsung untuk mengirim 40.000 jamaah Iran untuk naik haji di kota Saudi Mekah tahun ini.
Meski pembicaraan sampai saat ini hanya difokuskan pada isu-isu yang relatif kecil seperti ziarah ke tempat-tempat suci dan telah dihadiri oleh pejabat di tingkat intelijen, namun potensi penyertaan pejabat tingkat kementerian luar negeri dalam pembicaraan yang akan datang dapat menunjukkan kemajuan yang signifikan dan keinginan untuk membuat kesimpulan beberapa konflik yang paling sulit diselesaikan di kawasan ini.
Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi juga dilaporkan telah memperbaiki hubungan di wilayah tersebut.
Selama dua minggu terakhir, Arab Saudi telah mengurangi eskalasi perangnya di Yaman melalui gencatan senjata yang jarang terjadi dan memulai pemulihan hubungan dengan Lebanon setelah putusnya hubungan yang belum pernah terjadi sebelumnya tahun lalu. Kedua negara merupakan arena konflik proksi antara Riyadh dan Teheran.
Mohammad Marandi, seorang profesor di Universitas Teheran mengatakan hambatan terbesar untuk menghangatkan hubungan dari perspektif Iran adalah perang di Yaman.
“Sekarang itu dihentikan, setidaknya untuk saat ini, ada harapan nyata untuk perbaikan,” katanya, seraya menambahkan bahwa Iran hanya siap untuk membahas hal-hal yang bersifat bilateral dan tidak “bernegosiasi atas nama” pemberontak Houthi Yaman.
Dimulainya kembali pembicaraan juga terjadi ketika negosiasi antara kekuatan dunia dan Iran untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015 mencapai tahap lanjut. Teluk Arab telah frustrasi di AS karena tidak mengatasi keprihatinan mereka dengan Iran dalam pembicaraan, percaya pengaruh mereka di Teheran artinya jika dibandingkan dengan pengaruh AS.
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Nabi Isa 'alaihissalam, yang disebut sama org kafir sebagai Yesus…
Keren Bank Aceh Syariah. Dari waktu ke waktu penuh inovasi.…
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Beredar Narasi di Tentara AS,…
Bank Aceh Siapkan Reward Khusus…
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Indonesia, khususnya Aceh, perintah Allah dan Rasulullah itu, level urgensi…
😥 Inna lillahi wa Inna ilahi raaji'un
😂 Mana pernah ngaku penjahat.
😂 Mereka orang-orang penyembah berhala yang terlalu delusional…
Iran is the best 👌 Amerika Serikat dan Teroris…
Berita Terpopuler