UPDATE

ACEH
ACEH

Aceh Tengah Berpotensi Jadi Produsen Rokok Kretek dan Cerutu Terbesar di Aceh

“Ketika cerutu yang saya buat bersama teman-teman, saya perkenalkan ke beberapa relasi, ternyata mereka sangat berminat untuk mencobanya, menurut mereka cerutu buatan saya tidak kalah dengan cerutu impor, ini membuat saya makin semangat, karena kalau produksi saya tingkatkan, akan semakin banyak tembakau petani yang terserap dan perlahan harganya juga akan ikut terdongkrak,” lanjutnya.

Prediksi Sri Waluyo tidak meleset, permintaan produk cerutu yang terus meningkat, ikut mempengaruhi omset dan harga jual tembakau dari petani, bahkan kenaikannya sampai 100 persen, dari kisaran 30 sampai 40 ribu rupiah per kilogramnya, kini sudah mencapai 70 sampai 85 ribu rupiah per kilogramnya. Kenaikan harga daun tembakau ini juga didorong dengan munculnya beberapa perusahaan rokok kretek di daerah ini dan meningkatnya permintaan pasar akan produk olahan tembakau berupa tembakau hijau (bako ijo), yaitu tembakau rajangan yang memeprtahankan warna hijaunya sampai kering.

“Alhamdulillah, berkat usaha yang saya rintis ini dan juga dari teman-teman lain yang mulai memproduksi rokok kretek dan cerutu, harga jual tembakau dari petani ikut terdongkrak, begitu juga dengan penyerapan tenaga kerja, produksi cerutu dan rokok kretek di daerah kami ini telah membuka peluang kerja bagi para tenaga terampil” sambungnya.

Meski usaha cerutunya masih dalam skala kecil, namun Sri Waluyo ingin produknya legal di pasaran baik dari aspek izin usaha maupun kewajiban kepada pemerintah berupa cukai tembakau.

“Meski usaha yang saya rintis ini masih skala kecil, tapi saya sudah mengurus semua perizinannya, termasuk mengurus cukai tembakau dari Bea Cukai, jadi cerutu yang saya produksi ini legal dan ikut memberi andil terhadap penadapat negara dari cukai tembakau” jelasnya.

Satu hal yang masih dikeluhkan oleh Sri Waluyo adalah minimnya publikasi dari usaha yang ditekuninya ini, sehingga produk yang dihasilkannya masih terbatas pemasarannya.

“Maunya ada yang nulis tentang usaha saya dan teman-teman produsen olahan tembakau di Gayo ini supaya produk kami semakin dikenal di luar daerah, selama ini saya baru sebatas meperkenalkan produk ini kepada pera relasi dan mempromosikannya melalui beberapa even pameran, tapi itu belum cukup, butuh publikasi yang lebih luas, karena untuk kualitas, saya berani menjaminnya,” pungkasnya.

Respon positif terhadap munculnya industri rokok dan cerutu di Aceh Tengah ini, diberikan oleh Kepala Kanwil Ditjen Bea dan Cukai Aceh, Dr. Fuadi. Selain bisa menjadi potensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan ekonomi dan mendongkrak pendapatan negara (melalui cukai temabakau), hadirnya perusahaan rokok dan cerutu di Gayo ini juga bisa meminimalisir perdaran rokok ilegal di Aceh.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.