IndonesianArabicEnglishRussianGermanChinese (Simplified)JapaneseTurkish

RUU Omnibus Kesehatan akan Gabungkan 13 Undang-Undang

Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Supratman Andi Agtas berbicara saat memimpin rapat kerja di kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (29/6/2020). Rapat membahas Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) RUU tentang Cipta Kerja, khususnya Bab V soal perkoperasian dan Bab VII soal dukungan riset serta inovasi.
Bagikan

Bagikan Artikel Ini

atau salin tautannya

Kemenkes berharap ada transformasi kesehatan yang didukung UU terkait kesehatan.

JAKARTA — Badan Legislasi (Baleg) DPR menggelar rapat pleno pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang akan menggunakan mekanisme omnibus. RUU tersebut disebut akan mencakup 13 undang-undang yang berkaitan dengan sektor kesehatan.

“Dengan menggabungkan undang-undang itu akan jauh lebih mudah untuk kita koordinasikan. Omnibus kesehatan ini dengan menggabungkan sekian banyak undang-undang ya, mungkin ada 13 undang-undang yang akan kita gabungkan menjadi satu,” ujar Ketua Baleg Supratman Andi Agtas dalam rapat kerja dengan pemerintah, Selasa (22/11/2020).

RUU Omnibus Kesehatan, jelas Supratman, menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan integrasi di sistem kesehatan nasional. Bahkan ia menyebutnya sebagai bagian untuk membangun arsitektur kesehatan di Indonesia.

BACA JUGA:
Jimly Asshiddiqie Meresmikan Jimly Books Corner di KY dan 10 Universitas

“Itu adalah bagian upaya dari parlemen dan juga nanti dengan pemerintah untuk melihat bagaimana kita mau membangun sebuah sistem yang integratif. Mulai dari tenaga kesehatannya, tenaga medisnya, kefarmasiannya, penyediaan alat kesehatannya, sampai dengan proses distribusi,” ujar Supratman.

Kemudian, ia mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyatakan bahwa Indonesia kesulitan menghadapi krisis kesehatan. Karenanya, pandemi Covid-19 dapat menjadi momentum untuk memperbaiki sistem kesehatan nasional.

“Menurut saya dengan pengalaman Covid-19 itu penting kita lakukan, tapi tataran implementasinya, tapi khusus terbatas kepada BPJS yang terkait dengan tugas program yang pertama yang menyangkut sistem jaminan kesehatan nasional. Itu mungkin yang ada singgungannya,” ujar Supratman.

Berkaca dari sistem keuangan yang dunia yang ada standar baku dan protokolnya, maka alangkah baiknya dalam sistem kesehatan pun dibentuk protokol yang jelas. “Karena arsitektur kesehatan kita tidak sama dengan arsitektur keuangan dunia yang berlaku. Dalam institusi keuangan ada protokol yang jelas. Nah ini yang belum kita punya. Membentuk sebuah lembaga yang persis sama di bidang keuangan,” ungkap Supratman.

BACA JUGA:
Diusung PAN Jadi Cawapres, Erick Thohir Akui Masih Berproses

Sejumlah undang-undang disebut akan masuk ke dalam revisi UU Kesehatan yang menggunakan mekanisme omnibus. Beberapa di antaranya adalah Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan, dan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

Selain itu, ada pula Undang-Undang 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Serta, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1963 tentang Farmasi dan Undang-Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

0
senang
Senang
0
sedih
Sedih
0
marah
Marah
0
waduh
Waduh
0
sakit
Sakit
RUU Omnibus Kesehatan akan Gabungkan 13 Undang-Undang
Masuk Login

Log in or create an account now to take advantage of its privileges, and it's completely free!