UPDATE

NASIONAL

PDI Perjuangan Tolak Usung dan Dukung Menantu Jokowi di Pilkada 2024!

Acara rembuk relawan Banas yang digelar baru- baru ini sama sekali tidak mewakili dukungan riil masyarakat. Ironisnya, seluruh energi rembuk relawan tersebut justru diserap oleh Roida yang berhasil menarik perhatian publik lewat aksi lempar sendal dan botol air mineral ke arah rombongan Jokowi. Akhirnya publik tidak mendapat asupan gizi informasi terkait rembuk relawan tersebut, sebab media lebih tertarik membahas tentang aksi Roida. Meski diklaim sukses karena dihadiri ribuan orang, namun pesan rembuk relawan tersebut tidak sampai karena telah diambil seluruhnya oleh Roida.

Klaim Memiliki Banyak Relawan

Satu- satunya hal yang dicontoh Banas dari mertuanya adalah suka membentuk relawan, sehingga di berbagai kesempatan Banas sering menyebut relawan saya. Jumlahnya kini diklaim telah mencapai ratusan kelompok, baik relawan baru, maupun bekas relawan Jokowi. Namun relawan tersebut tidak solid dan sangat cair, sebab banyak yang kecewa, karena sang mantu ternyata berbeda dengan mertua. Para relawan yang ikut berjuang saat Pilkada banyak yang membubarkan diri, karena yang didukung jauh dari ekspektasi. Kelompok relawan yang berjuang karena nama mertua pun, akhirnya kecewa, sebab komunikasi kini tidak mudah.

Meski diklaim memiliki banyak relawan, kemenangan Banas di Pilkada 2020 merupakan hasil kerja keras PDIP bersama partai pengusung lain dan para relawan Jokowi. Sebab kemenangan Banas menjadi beban dan tanggung jawab PDIP, sebagai pemilik KTA PDIP dan menantu Jokowi. Maka jika ada partai lain maupun relawan Banas yang mengaku bekerja lebih keras dari PDIP, itu adalah klaim. PDIP berhak menyatakan dirinya sebagai parpol utama pendukung Banas, yang berhasil mengantar Banas menjadi walikota Medan, seperti berjuang memenangkan Jokowi dalam 2 kali Pilpres di Sumut.

Sebab, jika bukan karena menantu Jokowi, pada Pilkada Medan tahun 2020, PDIP dipastikan mengusung kader sendiri, Walikota Medan petahana, Akhyar Nasution. Namun karena ada instruksi plus ancaman sanksi, seluruh kader tunduk berjuang, mendukung dan memenangkan Banas hingga terpilih. PDIP kembali menyembelih kader sendiri, seperti yang dilakukannya saat mencopot dan memecat almarhum Rudolf Pardede, sebagai Ketua DPD PDIP dan sebagai kader PDIP, Gubernur Sumatera Utara petahana saat itu. Rudolf dipecat demi Tri Tamtomo, cagubsu, dan posisi ketua DPD diserahkan kepada Panda Nababan.

Demi dan untuk menantu Jokowi, para kader PDIP dipaksa mengubur mimpi, dan mundur atau dipecat sebagai kader PDIP. Begitupun PDIP tetap solid bergerak dan berjuang memenangkan Banas. Namun pasca terpilih menjadi Walikota Medan, PDIP sama sekali tidak pernah “dekat” dengan Banas. Tidak satupun kader PDIP, yang secara khusus diminta Banas atau diutus oleh PDIP masuk circle Banas. Jika ada orang per orang kader PDIP yang berada di lingkaran kekuasaan Banas, itu dilakukan sendiri- sendiri karena irisan kepentingan bisnis atau kemampuan cari muka, bukan demi dan karena partai.

Sumber data: BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
1 2 3

Bagaimana reaksi Kamu?

Diskusi

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.