UPDATE

LINGKUNGAN
LINGKUNGAN

Wajah Perhutanan Sosial di Aceh

Nisdalina ingat bulan Mei lalu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengirim tim ke Balee Redelong untuk memasang kandang jerat beruang madu. Usai pemantauan selama lima hari hasilnya nihil, tak ada satu beruang pun masuk kandang.

Peran Masyarakat, Jauh Sebelum Negara

Hari itu hari ke sekian kalinya di tahun 2009 Sumini membiarkan Suaminya, Sujito mencuci bajunya sendiri. “Bapak cuci sendiri ya baju yang dari gunung,” ujarnya ketus sebab sudah hapal betul setiap suaminya itu turun dari gunung tak ada satu barang pun yang bisa diuangkan.

Sumini seorang ibu rumah tangga di Desa Damaran Baru, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah. Salah satu desa yang terletak di kaki bunung berapi aktif Burni Telong selain Desa Kenine, Fajar Harapan dan Rembune.

MPU Uteun Damaran Baru. FOTO/HAI/Fendra Tryshanie. Ⓒ Hak cipta foto di atas dikembalikan sesungguhnya kepada pemilik foto

Dulunya Sujito sehari-hari bekerja sebagai tukang bengkel. Namun ketimbang aktivitas perbengkelannya, Sujito justru lebih sering naik gunung.

Dalam kepala Sumini pastilah orang yang pergi ke gunung akan membawa sesuatu entah itu kayu atau hasil hutan lain yang bisa dijual untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Namun yang dilakukan suaminya malah bertolak belakang; membawa beras, gula, atau bumbu-bumbu dapur ke gunung.

“Waktu itu yang ada beras di rumah pun habis dibawa bapak ke gunung,” kenangnya tertawa mengingat betapa ia kesal sekali dengan kebiasaan suaminya.

Karena takut semakin bergejolak, Sujito perlahan membujuk Sumini untuk ikut bersamanya naik ke gunung. Nihil, Sumini menolak. Tak patah arang, rayuan itu terus disuntikkan.

Sumini diiming-imingi cerita aneka jenis hewan yang hidup harmonis di hutan Damaran, dan yang paling penting ada berbagai jenis bunga yang nantinya bisa ia jual.

“Ada banyak anggrek buk di sana, nanti bisa ibu jual. Dan ada potensi wisata di sana, nanti bisa ngajak anak-anak mahasiswa” ujarnya menirukan kembali bujukan suaminya agar ia bersedia naik gunung.

Tentu saja perihal menjual anggrek itu hanya sebatas rayuan di balik misi Sujito agar istrinya itu melihat langsung kondisi hutan Damaran dan mau sejalan dengan aksi yang belakangan ia kerjakan: menulusuri hutan dan memastikan tapal batas wilayah hutan yang tidak boleh ditebang dan dijadikan perkebunan. Namun perihal potensi wisata ia tampaknya serius. Bertahun-tahun setelah pembicaraan itu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Aceh; Universitas Syiah Kuala, Universitas Malikussaleh, Universitas Islam Negeri Ar-raniry, Al-Muslim, dan Universitas Teuku Umar silih berganti datang, untuk wisata atau penelitian.

Sumini tentu saja tergiur dengan rayuan suaminya “Waktu itu ibu pikir ya enak lah, bunga anggreknya bisa dijual, hahahhah,” ujarnya bercerita membayangkan waktu itu yang ada dalam kepalanya adalah kalkulasi jumlah uang yang akan didapatnya.

image_print
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.