Kata Sumini tidak ada batasan apa pun jika ada perempuan yang ingin ikut patroli bersama, cukup dengan izin suami-keluarga dan kondisi tubuh yang sehat. Mpu uteun ‘penjaga hutan’- begitu sebutan untuk kaum perempuan penjaga hutan- dibagi dalam dua tim setiap patrolinya, mereka akan menyusuri hutan selama 10 hari bersama lima laki-laki, per tim berisi delapan orang.
Berbagai jenis benih dan biji-bijian seperti jambu biji, nangka, dan sirsak mereka bawa saat patroli, ditanami untuk pakan hewan di hutan. Alhasil setup madu miliki warga yang meskipun diletakkan jauh dari rumah tak pernah dirusak beruang madu. Tak pernah lagi juga desa mereka dilanda banjir. Anak-anak pun sudah diperbolehkan orang tuanya untuk memancing di sungai wih gile.
Kebun kopi di sepanjang bantaran sungai wih gile mulai terisi kembali.
“Yang itu kira-kira umurnya lima tahun,” ujar Sumini menunjuk kebun kopi berjarak 10meter dari sungai wih gile.
Beragam penghargaan diterimanya baik secara individu atau kelompok; piagam pengargaan Menteri LHK kategori ekowisata terpopuler (2020), merdeka award kategori sosok inspiratif untuk Indonesia (2021), award perempuan leuser (2022), lotus leadership award (2023), dan penghargaan Kalpataru KLHK kategori kelompok penyelamat lingkungan.
Sumini terharu penghargaan justru datang bahkan dari tempat dan nama yang tidak pernah didengarnya. Di daerahnya sendiri pemerintah berwenang terkesan cuek.
“Kita masyarakat ekonomi lemah, ini bukan pekerjaan yang mudah, bagian dari mitigasi. Tapi itu pun tidak mau mereka bantu. Kalau sudah datang bencana baru sibuk,” Sumini berucap sambil memandangi piagam kalpataru berbentuk pohon beringin di depannya.
Sumini masih memiliki tiga anak yang bersekolah, dua lainnya sudah berumahtangga. Subuh selepas salat dan mandi Sumini berjalan menuju rumah produksi tempe yang letaknya 100 meter dari rumahnya. Pagi itu hanya ada dua perempuan yang membersamai Sumini membungkus tempe, jumlah per orangnya sudah mereka tentukan dan sepakati.
“Menjaga hutan juga, mencari penghasilan pun perlu. Selain uang dari bapak, ibu pun kan harus ada tambahan juga,” ucapnya menyelesaikan bungkusan terakhir. Matahari belum tampak, Sumini kembali ke rumahnya. Hari itu usai menyelesaikan semua pekerjaan rumah Sumini bersama timnya akan berpatroli ke hutan.
Masih Mencari Solusi Ekologi dan Ekonomi
Puluhan ibu rumah tangga sibuk merangkai batang rotan, menyambung batang demi batang menjadi piring rotan, tudung saji dan keranjang buah. Di depan bangunan tempat mereka berkumpul tertulis “sekretariat HKM”.































































































Beri Komentar