Coba bayangkan pagi hari di sebuah kampung di pinggir Krueng Aceh. Anak-anak mandi di tepian, ibu-ibu mencuci pakaian, sementara beberapa lelaki menebar jala mencari ikan untuk sarapan. Pemandangan ini terasa begitu akrab, hampir menjadi bagian dari identitas banyak daerah di Indonesia. Namun, di balik kesibukan yang tampak damai itu, tersimpan sebuah ironi yang jarang kita sadari: sungai yang setiap hari kita manfaatkan justru menjadi ruang yang paling sering kita abaikan.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ketika data kualitas air dikumpulkan dari berbagai penjuru negeri, hasilnya cukup mengejutkan. Sungai di Indonesia—dan Aceh sebagai salah satu contohnya—menunjukkan pola yang sama: dipakai secara intensif, tetapi dirawat dengan sangat minim. Artikel ini akan mengajak pembaca menyusuri tiga sisi cerita sungai kita, mulai dari fungsi yang kita nikmati, wujud pengabaian yang kita ciptakan, hingga arah pemulihan yang sebenarnya bisa kita tempuh bersama.
Sungai bukan sekadar aliran air yang kebetulan melintasi wilayah kita. Di banyak kota dan desa di Indonesia, sungai berperan sebagai sumber air baku, sarana sanitasi, jalur irigasi, jalur transportasi, hingga tempat perdagangan (Basuki et al., 2024; Novita et al., 2023; Yuliza et al., 2025; Angriani et al., 2018). Bahkan di sejumlah kota, sungai diangkat menjadi ikon wisata yang dibanggakan, lengkap dengan taman tepian dan festival tahunan.
Di Aceh, ceritanya tidak jauh berbeda meskipun ada nuansa lokal yang khas. Sungai-sungai seperti Krueng Aceh menjadi tempat rekreasi keluarga, lokasi favorit memancing, ruang berkumpul warga, sekaligus penampung air hujan yang kembali dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari (Rahmadi et al., 2023). Dengan kata lain, sungai di Aceh telah menyatu dengan ritme kehidupan masyarakat, bukan hanya sebagai infrastruktur alam, melainkan juga sebagai bagian dari budaya dan interaksi sosial.
Beberapa fungsi utama sungai yang patut kita renungkan bersama:
- Sungai menopang kebutuhan air rumah tangga dan sanitasi masyarakat sehari-hari (Basuki et al., 2024; Tanjung et al., 2022).
- Sungai mendukung irigasi pertanian sekaligus menjadi sumber air baku untuk layanan air bersih (Novita et al., 2023; Widodo et al., 2019; Namara et al., 2022).
- Sungai juga berperan dalam transportasi, perdagangan, bahkan pariwisata di berbagai daerah (Basuki et al., 2024; Yuliza et al., 2025).
Melihat betapa banyak peran yang diemban sungai, seharusnya perhatian yang kita berikan sebanding dengan manfaat yang kita terima. Sayangnya, kenyataan di lapangan justru berbicara sebaliknya.






























































































Luar biasa tulisannya. Salute! Keren²…