Melihat rentetan angka tersebut, sulit rasanya untuk tidak bertanya: kalau sungai memberi begitu banyak, mengapa kita justru membalasnya dengan sedemikian sedikit perhatian? Penyebabnya sebenarnya cukup jelas. Tekanan utama terhadap sungai datang dari limbah domestik, limbah industri, residu pertanian, hingga limpasan air hujan yang membawa berbagai polutan (Makarim, 2024; Fachrudin & Rismawati, 2026). Parameter pencemar yang paling sering melampaui ambang batas pun cukup konsisten di berbagai penelitian, yaitu BOD, COD, TSS, kandungan nutrien, serta bakteri coliform (Firmansyah et al., 2021; Novita et al., 2023; Tanjung et al., 2022).
Sering kali, ketika sebuah sungai dinyatakan tercemar, respons yang muncul adalah proyek pembangunan fisik: normalisasi aliran, pembuatan tanggul, atau penataan ruang terbuka hijau di sepanjang bantaran. Pendekatan semacam ini memang penting, namun ternyata belum cukup untuk menyelesaikan akar masalah. Studi di Sungai Cisadane menjadi contoh yang cukup mengena. Meskipun sudah dilakukan normalisasi, pembangunan dinding penahan, dan penambahan ruang terbuka hijau, kualitas air di sungai tersebut tetap menurun dan bahkan masih tergolong tercemar berat (Namara et al., 2022).
Fakta ini mengungkap sesuatu yang penting, yaitu bahwa masalah sungai bukan semata-mata persoalan teknik sipil, melainkan persoalan sistem yang jauh lebih kompleks. Beberapa hambatan yang berulang kali muncul dalam berbagai penelitian antara lain cakupan layanan pengolahan air limbah yang masih rendah, saluran drainase yang bercampur dengan limbah rumah tangga, implementasi kebijakan yang lemah di lapangan, keterbatasan staf dan anggaran untuk kegiatan monitoring, serta partisipasi masyarakat yang belum optimal (Namara et al., 2022; Makarim, 2024; Evianovita et al., 2025).
Dengan kata lain, membangun tanggul tanpa membenahi sistem pengelolaan limbah sama saja dengan menutup luka tanpa membersihkan infeksinya terlebih dahulu. Selama sumber pencemaran terus mengalir setiap hari, sebaik apa pun infrastruktur yang dibangun, hasilnya tidak akan bertahan lama.
Lantas, apa yang sebenarnya bisa dilakukan? Berdasarkan berbagai temuan penelitian, ada beberapa strategi yang terbukti paling konsisten memberikan dampak positif. Pertama, penguatan zona riparian atau kawasan penyangga di sepanjang bantaran sungai. Kedua, monitoring kualitas air yang dilakukan secara rutin, bahkan dengan memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT) agar data dapat dipantau secara real-time. Ketiga, penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pencemaran, baik dari sektor industri maupun individu (Basuki et al., 2024; Husna et al., 2025).

















































































































Luar biasa tulisannya. Salute! Keren²…