BANDA ACEH -Roy Suryo menyatakan lebih memilih Indonesia tanpa wakil presiden hingga 2029. Ia menyebut sejarah republik pernah mengalami masa tanpa wapres dan menilai hal itu bisa terulang. Pernyataan ini disampaikan dalam program Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV yang tayang 28 Oktober 2026.
Pembawa acara menanyakan sikapnya secara langsung, apakah ia lebih memilih tanpa wapres dibandingkan dengan adanya wapres saat ini. Roy menjawab singkat, “Iya.” Ketika ditanya alasannya, ia menyebut soal beban biaya.
“Daripada beban. Beban untuk negara ini membiayai Wapres ini kan luar biasa,” ujarnya.
Roy mengingatkan bahwa Indonesia pernah menjalani masa tanpa wakil presiden setelah Mohammad Hatta mundur. Ia menjelaskan bahwa pada 1945 hingga era Republik Indonesia Serikat, Soekarno dan Hatta masih berpasangan.
“Tujuh tahun kemudian tahun 57, itu Bung Hatta dengan kenegarawanannya, dengan kelogowannya mengundurkan diri,” kata Roy. Menurutnya, setelah itu kursi wapres kosong selama sekitar satu dasawarsa.
“Sehingga selama 10 tahun sampai dengan tahun 67 dan di tengah-tengahnya ada peristiwa G30S/PKI, maka di ruangnya Pak Harto waktu itu hanya ada Bung Karno, ya, itu memang Indonesia tanpa Wapres,” ujarnya.
Ia merujuk pada adegan film G30S/PKI produksi 1984 yang memperlihatkan ruang Kostrad hanya berisi foto Garuda dan foto Bung Karno. “Indonesia kan pernah punya pengalaman tanpa wapres gitu loh,” kata Roy.
Dari sisi pembiayaan, Roy mengaitkannya dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia menyebut pembangunan IKN tidak ada gunanya. “Saya juga sebenarnya sangat melihat itu wah itu apa, muspro, muspro itu enggak ada gunanya, bahkan itu mengganggu perbaikan negara, uang negara,” katanya.
Menurut dia, istana wakil presiden di IKN sudah selesai dibangun. Namun ia menilai Gibran tidak berpindah ke sana. Kalaupun berpindah, ia menilai hal itu akan menambah biaya. “Pasti nanti tim suksesnya malah akan banyak, malah pesta-pesta nanti di sana, ngapain juga gitu loh membiayai kegiatan yang enggak ada hubungannya,” ujarnya.
Ia menyimpulkan, “Artinya apa? Sudahlah enggak usah ada Wapres.”
Roy mengatakan ketiadaan wapres akan menghasilkan penghematan di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit. “Penghematan itu akan luar biasa bisa dilakukan di saat kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja sekarang,” ujarnya.
Selain itu, ia menyebut alasan Politik. Menurutnya, jika kursi itu dikosongkan hingga 2029, tidak akan muncul kecurigaan bahwa pihak tertentu menginginkan jabatan tersebut.
“Supaya tidak menimbulkan syak wasangka,” kata Roy. Ia menyebut nama-nama yang kerap dibicarakan jika kursi wapres terbuka. “Daripada ramai, daripada nanti orang bicara AHY, bicara Mbak Puan, bicara Cak Imin, bicara dengan tokoh-tokoh lain.”


















































































































Komentar Terbaru