Seiring berjalan waktu, kedua anaknya naik tingkat ke pendidikan yang lebih tinggi, salah satunya bersekolah di pesantren.
“Pesantren itu kan pengeluarannya sama pun kayak orang kuliah, malah bisa lebih,” ujarnya. Hasil kebun kopi mulai terasa kurang, saat keuangan keluarga putus mereka sesekali meminjam ke tauke kopi, “Nanti kalau udah panen kopi dan udah ada uangnya kita kembalikan, pinjam ke toke enggak ada tambahannya,” ujar Nisdalina.
Kepada tim HARIANACEH.co.id Nisdalina mengaku, hari-hari itu ia dan suaminya berpikir untuk mencari penghasilan tambahan lain sebab kebutuhan rumah tangga mereka semakin meningkat.
Keduanya mencoba peruntungan dengan beternak ikan. Dibuatlah kolam ikan di halaman belakang rumah, namun tak berakhir baik.
“Malamnya ada yang ngambil. Jadi kaya ikan bersama, siapa aja bisa ambil, hahahah,” ujar Nisdalina mengenang suatu pagi sialnya saat menyaksikan ikan-ikan di kolam sudah raib.
Dari adiknya yang beternak lebah ia mendengar bahwa hasil panen madu bisa diharapkan untuk menopang ekonomi keluarga sambil menunggu masa panen kopi tiba. Plus, perawatannya tak repot.
Jadilah Efendi sang suami membuat belasan setup madu. Mereka letakkan setup-setup itu di kebun kopi. Efendi terus memperbanyak setupnya hingga puluhan. Pun mereka tidak kesulitan jika hanya membuat setup saja, tidak perlu menyediakan pakan atau melakukan pemeliharaan esktra.
“Lebah-lebah itu enggak perlu kita rawat, bisa pun cari makan sendiri,” ujar Nisdalina.
Perlahan mereka mulai bisa menikmati panen madu dari setup yang dibuat. Masa panen yang berbeda-beda menguntungkan nisdalina dan suaminya, jika beberapa setup sudah penuh mereka langsung menjualnya. Setiap setup menghasilkan jumlah madu yang berbeda, ada yang 1/4kg, 1kg, kadang juga 2kg. Pernah sekali waktu ia mengirim 23 botol madu ke Banda Aceh, saat itu Nisdalina masih menjualnya dalam botol bekas sirup pohon pinang ukuran 520ml. Per botol diberi harga 150 ribu. Di masa panen itu lah biaya sekolah per bulan kedua anaknya bisa terpenuhi.

Namun bulan-bulan madu itu kemudian berubah. Kebun mereka yang terletak di dalam hutan, menyediakan puluhan setup madu penuh isi ternyata menggiurkan bagi satwa bernama serupa, beruang madu. Serangan beruang madu di malam hari awal 2015 silam menyisakan hanya 15 setup dari total lima puluh setup yang dipasang. Mereka terpaksa gali-tutup lobang lagi sebab harus memperbaiki setup-setup yang rusak.
“Terpaksa ngutang lagi sama toke-toke kopi tu, nanti kalau udah panen bayar,” kenangnya sambil tertawa.































































































Beri Komentar