Amerika harus mengalihkan pandangan dunia agar tidak fokus pada kondisi remuknya Israel di Gaza sebagai sebuah kekalahan mereka. Dengan tidak tahu malu, Amerika yang telah mengirimkan bala bantuan bersama Inggris untuk membantu Israel membantai Gaza menyampaikan harapannya agar perang di Gaza segera berakhir sekaligus terjaminnya hak-hak politik Palestina.
Menteri Luar Negeri Antony Blinken menutup aib Israel dengan menyatakan pentingnya realisasi hak-hak politik palestina guna mewujudkan perdamaian di wilayah tersebut. Blinken ibarat duta iblis yang sedang berfatwa tentang perdamaian seraya berpura-pura lupa bahwa Amerika adalah aktor dibalik genosida Palestina. Blinken mengabaikan fakta bahwa Amerika dan Inggris telah membakar kota-kota Yaman karena dukungan Yaman terhadap Palestina.
Amerika tidak ingin mengakui kekalahan mereka dari Hamas, karena akan sangat memalukan bagi negara superpower yang memerangi Hamas bersama sekutu-sekutu Eropanya sekaligus memanggil Yahudi dari seluruh dunia untuk berkontribusi dalam pembantaian ini. Selain itu Amerika juga tidak ingin dunia mengetahui bahwa mereka pun tak dapat berdiri sendiri melawan kelompok Houthi Yaman di Laut Merah.
Amerika bersama 12 negara sekutunya yaitu Australia, Bahrain, Belgia, Kanada, Denmark, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Selandia Baru, Singapura dan Inggris telah dipermalukan oleh Houthi. Negara-negara tersebut gemetar menghadapi ancaman Houthi, terutama bagaimana tindakan dan komitmen Houthi menjadi penghambat rantai pasokan global. Forum Ekonomi Dunia di Davos membahas komitmen Houthi, yang merupakan indikasi bagaimana Houthi telah melambungkan namanya sebagai kekuatan geopolitik.
Para Pengkhianat
Amerika melanjutkan upaya mengaburkan kekalahannya atas Palestina bersama Israel melalui normalisasi hubungan Saudi-Israel sebagai jalan terbaik mendirikan negara Palestina. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Jake Sullivan dalam World Economic Forum (WEF) di Davos.
Sullivan menyebut bahwa normalisasi hubungan Arab Saudi- Israel yang dikaitkan dengan konflik Palestina merupakan keyakinan kuat Joe Biden untuk menjamin keamanan Israel. Rencana ini diaminkan oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan. Dalam World Economic Forum (WEF) Pangeran Faisal menyatakan bahwa Arab Saudi sepakat mengenai perdamaian dengan Israel.
Demikian strategi Amerika menyelamatkan wajahnya dari kekalahan yang memalukan melawan Hamas dan Houthi di kawasan. Dalam hal ini Arab Saudi mengambil peran sebagai pahlawan kesiangan, pengkhianat yang mendukung rencana Amerika melanjutkan solusi 2 negara bagi Palestina dan Israel di tanah Palestina.

















































































































Komentar Terbaru