Ironinya, fakultas dakwah di kampus kita lebih sibuk melatih mahasiswa jadi penceramah ketimbang pendamping masyarakat. Seolah target utama itu bikin alumni yang bisa isi ceramah di bulan Ramadhan, bukan yang bisa advokasi masalah penggusuran warga, atau dampingi korban kekerasan seksual di lingkungan kampus. Padahal, kalau serius dibaca, Islam itu agama praksis sosial. Syariat bukan sekadar soal salat dan puasa, tapi soal menjaga nyawa, akal, keturunan, harta, dan martabat manusia.
Sementara itu, Fakultas Dakwah lebih sering sibuk dengan lomba-lomba khutbah antar mahasiswa, seminar dakwah internasional (yang peserta dan pembicaranya ya itu-itu aja), dan workshop retorika ceramah. Nggak salah sih, tapi kalau itu saja yang jadi fokus, kapan mahasiswa dakwah belajar soal advokasi sosial? Kapan mereka turun ke masyarakat buat ngeliat langsung problem umat?
Kalau kita berkaca ke era Nabi Muhammad SAW, dakwah itu bukan cuma soal mengajarkan akidah. Tapi juga soal membebaskan budak, melindungi anak yatim, memperjuangkan hak perempuan, dan melawan ketidakadilan. Artinya, dakwah harus hadir di ruang-ruang di mana ketimpangan dan ketidakadilan terjadi. Sayangnya, di kampus kita, hal kayak gini sering dianggap terlalu “aktivis” dan kurang “islami”. Padahal justru di situlah esensi dakwah berada.
Ada juga yang sering dilupain, penguatan fundamental sosial seperti pendidikan, kesehatan, solidaritas sosial, hingga keadilan ekonomi adalah bagian penting dari dakwah. Nggak percaya? Coba buka maqashid syariah. Di situ disebutkan, tujuan hukum Islam itu melindungi agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Nah, gimana mau melindungi jiwa kalau anak-anak muda di kampung mati overdosis? Gimana mau jaga akal kalau pendidikan mahal dan diskriminatif? Gimana mau pelihara keturunan kalau kekerasan seksual makin marak?
Semua itu tugas dakwah. Tapi entah kenapa, di kampus kita, hal-hal kayak gitu dianggap urusan LSM, urusan segelintir orang atau pemerintah yang tidak bisa kita harap. Mahasiswa Fakultas Dakwah sibuk lomba khutbah dan ceramah motivasi, sementara problem sosial di sekitar jalan terus tanpa pendampingan.
Penguatan fundamental sosial bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, bikin komunitas taman baca di kampung, dampingi ibu-ibu korban KDRT, atau edukasi soal kesehatan mental di kalangan pelajar SMA. Itu semua bentuk dakwah yang sangat dibutuhkan masyarakat hari ini, apalagi di kota-kota kayak Banda Aceh, di mana persoalan sosial bertumpuk di balik label “Serambi Mekkah.”































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Nabi Isa 'alaihissalam, yang disebut sama org kafir sebagai Yesus…
Keren Bank Aceh Syariah. Dari waktu ke waktu penuh inovasi.…
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Beredar Narasi di Tentara AS,…
Bank Aceh Siapkan Reward Khusus…
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Indonesia, khususnya Aceh, perintah Allah dan Rasulullah itu, level urgensi…
😥 Inna lillahi wa Inna ilahi raaji'un
😂 Mana pernah ngaku penjahat.
😂 Mereka orang-orang penyembah berhala yang terlalu delusional…
Iran is the best 👌 Amerika Serikat dan Teroris…
Berita Terpopuler