Selain itu negara seharusnya terbuka kepada publik sejak awal, menjalankan kerjasama ini secara transparan, tentu saja rakyat semakin cemas karena merekalah yang akan menjadi objek uji klinis. Wajar rakyat apatis terhadap perlindungan negara, mengingat kehadiran mereka hanya sekadar angka yang akan dibarter dengan alih teknologi. Suatu janji yang kerap disampaikan dalam sebuah proyek investasi, terlebih Bill Gates juga memberikan hibah senilai USD 159 juta kepada Presiden.
Hibah tersebut diberikan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis, yang diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi Indonesia dalam memberantas kelaparan anak-anak dan menciptakan generasi masa depan yang lebih cerdas. Padahal jika kita telusuri dengan seksama kapitalis global-lah (termasuk Bill Gates) yang menyebabkan kelaparan dan berjangkitnya berbagai penyakit menular di negara-negara miskin dan berkembang karena kerakusan mereka mengeksploitasi sumber dayanya.
Tidak diragukan lagi Gates adalah seorang pebisnis-yang mendirikan Microsoft pada tahun 1975, ia merekrut orang-orang paling cerdas di dunia dan membayar mereka untuk menjual dan mem-paten-kan teknologi atas nama dirinya. Target Gates sebagaimana target pebisnis pada umumnya yaitu berorientasi untuk meraup keuntungan dan memperluas pasar. Metrik-nya jelas. Keberhasilan diukur dari laba, harga saham dan pangsa pasar. Jurnalis Amerika Tim Schwab menulis dalam The Bill Gates Problems, Gates membela usaha amalnya dengan jumlah nyawa yang telah diselamatkannya, yang pada tahun 2013 ia sebutkan mencapai sepuluh juta.
Bicara soal nyawa dan kehidupan yang diselamatkan, menjadi paradoks dengan visi Gates lainnya, yaitu pengurangan populasi dunia melalui pengendalian kelahiran, pengendalian iklim, keluarga berencana termasuk pengembangan berbagai vaksin. Jadi sebenarnya, apa yang diinginkan Gates? Lebih banyak nyawa terselamatkan atau lebih sedikit?
Di sisi lain ada sejarah panjang tentang orang-orang yang memecahkan paradoks ini dengan istilah eugenika. Eugenika sendiri adalah filosofi sosial yang berarti memperbaiki ras manusia dengan membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta memperbanyak individu sehat. Wikipedia.org melaporkan bahwa puncak penyalahgunaan eugenika adalah pelaksanaan ideologi pemurnian ras yang dijalankan rezim NSDAP di bawah kendali Adolf Hitler.
Sementara pada abad ke-20, banyak negara melakukan berbagai kebijakan eugenika dengan berbagai metode seperti propaganda pemaksaan aborsi, genosida, pengendalian kelahiran, pelarangan menikah, pengembangan genetik hingga pengembangan berbagai senjata biologi termasuk vaksin.


























































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Jeffrey Epstein yahudi nggak jelas dan pelaku pelecehan sensual.
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Berita Terpopuler