Ayat-ayat ini dengan tegas menunjukkan bahwa kaum Muslimin tidak boleh tinggal diam saat saudaranya dizalimi. Apalagi dalam kasus Palestina yang jelas-jelas menunjukkan penindasan besar-besaran oleh entitas penjajah Israel dengan dukungan penuh dari Amerika dan sekutunya.
Sayangnya, nasionalisme sempit telah membutakan sebagian besar tentara dan penguasa negeri-negeri Muslim. Mereka lebih mudah mengangkat senjata untuk urusan wilayah atau kebanggaan bangsa daripada membela kehormatan Islam dan umatnya. Mereka tidak lagi menjadikan akidah Islam sebagai dasar dalam menentukan sikap politik dan militer. Padahal Rasulullah saw telah bersabda:
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)
Palestina adalah kemungkaran yang sangat nyata. Penjajahan, pembunuhan anak-anak dan perempuan, penghancuran rumah, hingga penodaan masjid Al-Aqsa terus terjadi. Namun, di manakah pasukan negara-negara Muslim, termasuk Pakistan, dalam menghadapi ini?
Sejarah mencatat, umat Islam pernah menjadi kekuatan besar yang disegani dunia. Ketika Khilafah Utsmaniyah masih tegak, kaum Muslimin di berbagai belahan dunia mendapat perlindungan dari kekuatan negara Islam. Ketika Muslim Spanyol menghadapi pengusiran besar-besaran oleh Kristen Eropa, Khilafah mengirim armada laut dan diplomasi untuk menyelamatkan mereka. Ketika Rusia menindas Muslim Krimea, Khilafah Utsmaniyah langsung mengirim pasukan dan menekan Rusia.
Ini hanya bisa terjadi karena umat memiliki satu pemimpin, satu negara, dan satu visi perjuangan. Mereka tidak terpecah dalam batas-batas nasional sempit. Mereka bergerak bukan atas dasar bendera atau kebangsaan, tetapi atas dasar akidah Islam.
Karena itu, solusi sejati bagi umat hari ini bukan sekadar mengecam atau menggalang dana kemanusiaan. Yang dibutuhkan adalah membangkitkan kesadaran politik umat Islam agar mereka menuntut berdirinya kembali kepemimpinan Islam sejati: Khilafah. Kepemimpinan yang menyatukan seluruh potensi negeri-negeri Muslim, termasuk kekuatan militer Pakistan, untuk diarahkan pada perjuangan hakiki: membebaskan bumi umat dari penjajahan dan menegakkan kalimat Allah di muka bumi.
Kita butuh tentara-tentara Muslim seperti yang disebut dalam hadits:
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana perisai, yang orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim)





























































































