SUDAH selayaknya kita selalu bersyukur memuji Tuhan Yang Maha Esa, Allah Swt. Kita telah dilahirkan sebagai manusia. Coba bayangkan jika kita terlahir sebagai hewan, tumbuh-tumbuhan atau jin, atau selain manusia. Tentu saja kita tidak dapat menikmati kehidupan ini sebagaimana kita rasakan sekarang. Ini merupakan anugerah yang sangat besar.
Sebagai makhluk yang Allah siapkan dan ciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Maka Dia sempurnakan penciptaan manusia itu dengan dua kelebihan utama yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.
Dimana dua kelebihan tersebut dapat menjadikan manusia bisa lebih mulia daripada malaikat, atau bisa lebih rendah derajatnya dari hewan. Kedua kelebihan itu adalah akal dan nafsu. Akal dan nafsu ini merupakan potensi yang dapat membawa kepada takwa juga keburukan.
Melalui kedua potensi tersebut pula, manusia diharapkan menjadi makhluk yang lebih mulia daripada malaikat. Tidak boleh manusia justru lebih rendah derajatnya dari hewan karena hewan tidak diberikan akal, mereka hanya memiliki nafsu. Sehingga hewan tidak pernah memiliki pikiran atau tidak pernah berpikir sebelum berbuat sesuatu, karena memang tidak dianugerahi akal.
Dengan akal itulah manusia dapat memikirkan ayat-ayat Allah Swt dan mengakui Ke-Esaan-Nya serta kekuasaan Nya. Sehingga manusia bisa sampai pada tujuan penciptaan dirinya, yaitu mengabdi kepada Allah Swt. Itulah sejatinya fitrah manusia.
Namun kenyataannya saat ini cukup banyak manusia yang sudah lupa pada tujuan hidup dan tujuan penciptaan dirinya. Mereka kehilangan arah saat menjalani kehidupan dunianya. Mereka gagal memaknai fitrahnya.
Sehingga manusia banyak yang terjerumus dalam kehidupan yang yang bertolak belakang atau tidak sejalan dengan maksud Tuhan menciptakan mereka.
Disebabkan oleh nafsu yang tidak sanggup dikontrol dengan baik, membuat seseorang mudah melakukan perbuatan-perbuatan yang membawa ia kepada posisi derajat paling rendah dari hewan.
Hawa nafsu yang tidak diilhami dengan akal dan iman yang baik serta benar, menyebabkan mereka terjerembab dalam lembah kehinaan akibat perilaku buruk yang dilakukan dalam kehidupannya.
Fenomena ini sudah terjadi dimana-mana sekarang ini. Tidak hanya dilingkungan umum bahkan dalam ruang lingkup pada sebuah keluarga kecil sekalipun sudah sangat mudah kita temukan.
Seorang ayah tega memperkosa anak kandungnya sendiri, seorang istri tidak segan-segan membantu suaminya berbuat bejat didepan matanya sendiri dengan perempuan lain.
Bahkan baru-baru ini ada sebuah keluarga yang terlibat secara sadar membuat sebuah video tidak senonoh layaknya sebuah peran profesional. Mengapa hal itu bisa terjadi? Tidak lain, karena mereka telah dikuasai oleh hawa nafsu yang ditunggangi oleh iblis. Mereka lupa bahwa iblis merupakan musuh yang nyata bagi dirinya.
Maka pada momentum Zulhijjah 1446 H ini marilah kita kembali kepada fitrah kita sebagai manusia. Makhluk istimewa yang sengaja diciptakan oleh Allah Swt untuk menjadi pemimpin yang meneruskan perjuangan Rasulullah Saw di muka bumi.
Kita di amanahkan oleh Pemilik alam semesta untuk menjaga, merawat, dan memakmurkan bumi ini. Jangan rusak alam ini dengan perilaku buruk kita. Bimbinglah hawa nafsu agar dia memahami ayat-ayat Allah, mengakui kekuasaan Nya, dan tidak berbuat mungkar yang berseberangan dengan perintah Nya.
Sebagaimana makna dari hijrah itu sendiri adalah kembali, maka pulanglah ke asal penciptaan kita. Manusia terlahir dalam suci, bersih dari dosa.
Seorang bayi tidak pernah memiliki dendam dan rasa benci kepada siapapun, seorang anak yang dilahirkan tidak pernah memiliki harta yang banyak, tidak memiliki gelar, tidak memiliki apa-apa.
Namun ketika kita sudah dewasa mengapa muncul rasa benci kepada orang lain? Mengapa ada dendam? Mengapa kemudian hidup menjadi penuh dengan noda dan dosa? Sekali lagi hawa nafsulah penyebabnya.
Lantas bagaimana agar hawa nafsu dapat dikendalikan?
Ada beberapa hal yang mungkin perlu diketahui agar kita mampu menguasai dan mengendalikan hawa nafsu diri kita sendiri.
Pertama; sadarilah bahwa kita merupakan manusia, makhluk Allah yang berbeda dengan makhluk lain. Manusia sangat istimewa dihadapan Allah Swt.
Oleh karena itu, maka jangan rendahkan diri kita dengan menentang perintah Allah Swt. Terimalah dengan ikhlas bahwa kita diciptakan sebagai “wakil” Tuhan dimuka bumi. Banyak tugas yang diemban oleh manusia dan semua itu suatu saat akan dimintai pertanggungjwaban.
Kedua; didiklah hawa nafsu dengan kebaikan. Perlu dicatat bahwa dalam proses penciptaan hawa nafsu oleh Allah Swt mengalami beberapa peristiwa. Yang peristiwa tersebut pada ujungnya adalah bahwa hawa nafsu sangat sulit tunduk kepada perintah penciptanya yakni Allah Swt. Sampai-sampai Allah kekang nafsu ini dengan membiarkan ia kelaparan hingga batas tertentu, baru kemudian ia tunduk kepada perintah Allah Swt.
Artinya apa? Bahwa begitulah karakteristik hawa nafsu sejak awal penciptaannya. Ia sangat sulit untuk ditundukkan. Hawa nafsu bahkan berani menentang Allah Swt sekalipun.
Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa hawa nafsu itu hanya bisa ditundukkan dengan membiarkannya lapar, sebab itu perintah berpuasa adalah kaitannya dengan upaya menundukkan hawa nafsu tersebut.
Kalau begitu apakah hawa nafsu ini harus dihilangkan dari manusia? Tentu tidak, justru hawa nafsu itu merupakan bagian dari fitrah penciptaan manusia. Bahkan hawa nafsu itu sendiri merupakan potensi.
Jikalau potensi itu dapat digunakan dan diarahkan dengan baik, maka akan menjadi sebagai sebuah kekuatan, menjadi energi untuk mencapai sesuatu yang baik.
Misalnya keinginan kuat untuk bisa berhaji, berbuat baik, dan kemauan untuk mau belajar pada jenjang lebih tinggi lagi. Nah semua itu adalah dorongan hawa nafsu yang sudah terarah dengan baik.
Bahkan nanti di hari kebangkitan, justru Allah memanggil manusia dengan sebuah sebutan “ya aiyuhal muthmainnah… “. Panggilan tersebut digunakan untuk menunjukkan kelompok manusia yang memiliki hawa nafsu yang baik, beriman dan bertaqwa. Maka mereka mendapatkan julukan “wahai jiwa-jiwa yang tenang”.






























































































