Padahal, pendampingan yang sejati harus dilandasi oleh lima prinsip utama yang bersifat universal. Pertama, prinsip kemanusiaan. Kita wajib menghormati setiap manusia di gampong sebagai subjek yang utuh, dengan harkat, martabat, dan hak untuk dihargai. Pendamping tidak boleh menjadi alat kekuasaan yang merendahkan warga demi memenuhi indikator kinerja.
Kedua, prinsip keadilan. Setiap warga harus mendapatkan perlakuan yang setara tanpa diskriminasi. Kita tidak boleh hanya bekerja untuk kelompok yang “mau diajak kerja sama,” sementara yang kritis kita abaikan. Semua warga adalah bagian dari masyarakat yang punya hak dan suara.
Ketiga, prinsip kebhinekaan. Gampong adalah mosaik dari keragaman: agama, budaya, cara pandang, dan latar belakang. Pendampingan harus hadir dengan kepekaan terhadap perbedaan, dengan sikap menghormati dan tidak memaksakan satu bentuk homogenisasi dalam program pembangunan.
Keempat, prinsip keseimbangan alam. Pendamping tidak boleh membawa pembangunan yang merusak lingkungan. Dalam setiap langkah yang kita buat, harus ada pertimbangan terhadap kelestarian alam, karena lingkungan yang rusak adalah pengkhianatan terhadap generasi mendatang.
Kelima, prinsip kepentingan nasional. Setiap program dan upaya pendampingan harus memiliki benang merah dengan cita-cita nasional: keadilan sosial, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyat. Bukan hanya mengejar laporan kegiatan yang selesai, tapi membangun fondasi kokoh untuk Indonesia yang lebih kuat dari akar rumputnya.
Banyak kritik terhadap pola pendampingan hari ini yang terkesan elitis. Kita datang dengan peta jalan yang sudah jadi, tanpa membuka ruang dialog yang jujur. Kita menyodorkan solusi dari luar, tanpa memahami masalah dari dalam. Seolah-olah pendamping adalah juru selamat, padahal perubahan sejati hanya akan terjadi ketika warga menjadi penggeraknya. Pendamping seharusnya menjadi teman seperjalanan, bukan instruktur yang memerintah.
Kehadiran kita harus nyata, bukan semu. Kita harus duduk bersama di serambi, menyimak cerita warga, mendengar keluh kesah, dan menumbuhkan kembali harapan yang sempat layu. Ini bukan kerja instan, tapi sebuah proses panjang yang memerlukan empati, kehadiran, dan konsistensi. Salah satu cara kita menunjukkan keseriusan adalah melalui asistensi—memberikan bantuan teknis dalam pelaksanaan tugas gampong. Tapi asistensi bukan sekadar mengoreksi laporan atau memeriksa berkas. Ia harus membantu masyarakat menyusun perencanaan berbasis data yang otentik, mendorong akurasi kebijakan yang berpihak kepada kebutuhan riil warga.





























































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…