BANDA ACEH – Ketika rasa malu telah hilang dari diri seseorang, maka akan mendatangkan kehancuran akhlak. Nabi saw dalam sabdanya, jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu. Rasulullah bukan mendorong berbuat bebas tanpa batas, tetapi teguran agar umat Islam sadar, hilangnya rasa malu awal dari kebebasan bertindak tanpa pertimbangan iman.
Dai Perkotaan Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh, Ustaz Khalidillah, MA akan menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Hidayah Dusun Meusara Agung, Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, 27 Juni 2025 bertepatan dengan 1 Muharram 1447 H.
Ustaz Khalidillah menegaskan, tanpa malu, seseorang bisa berkata dusta, berbuat curang, menyebar keburukan, dan memamerkan maksiat tanpa sedikit pun merasa bersalah. Hilangnya rasa malu dalam masyarakat pertanda akan runtuhnya nilai-nilai kebaikan dan akhlak.
Rasulullah saw bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, “Malu adalah cabang dari iman.” Ungkapan ini sederhana, tetapi sangat mendalam maknanya. Dalam Islam, rasa malu bukanlah tanda kelemahan atau keraguan dalam bertindak, melainkan merupakan cermin dari kesadaran spiritual yang tinggi, sebuah bentuk pengendalian diri yang berakar dari keimanan kepada Allah Swt.
Menurut Ustaz Khalidillah, malu yang dimaksud dalam ajaran Islam adalah perasaan takut dan segan melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah, baik dalam hal yang tampak maupun yang tersembunyi. Malu merupakan benteng hati yang melindungi seorang mukmin dari berbuat dosa dan menyimpang dari jalan yang benar.
Malu membuat seseorang tidak hanya peduli terhadap penilaian manusia, tetapi lebih dalam dari itu, peduli terhadap pandangan Allah Swt atas dirinya. “Oleh karena itu, orang yang memiliki rasa malu yang kuat kepada Allah akan senantiasa menjaga lisan, tindakan, dan pikirannya dari hal-hal yang dilarang dalam agama,” tegas guru pengajian pada LTQ Zaid bin Tsabit ini.
Allah Swt berfirman dalam Surah Al-‘Alaq ayat 14, “Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya ?” Ayat ini menggambarkan inti dari rasa malu yang sejati. Seorang hamba yang yakin bahwa Allah selalu mengawasi dirinya akan merasa malu jika melakukan dosa, meskipun tak ada manusia yang mengetahuinya.
Lebih lanjut Ustaz Khalidillah menyampaikan, rasa malu kepada Allah tumbuh dari tiga kesadaran penting. Pertama, kesadaran bahwa Allah telah melimpahkan begitu banyak nikmat yang tak terhitung, dari mulai kehidupan, kesehatan, hingga hidayah Islam. Sangatlah tidak pantas jika kita membalas nikmat itu dengan kemaksiatan dan kelalaian.





























































































