Kedua, rasa malu lahir dari pengakuan jujur atas kekurangan diri. Sehebat apa pun amal yang telah kita lakukan, semuanya tidak akan sebanding dengan hak-hak Allah yang seharusnya kita penuhi. Kita selalu kurang dalam bersyukur, kurang dalam beribadah, dan seringkali lalai dalam menjaga amanah-Nya.
“Ketiga, rasa malu akan tumbuh subur jika seseorang benar-benar meyakini bahwa Allah senantiasa mengawasi semua gerak-geriknya. Keyakinan inilah yang menjadi pengawas terbaik dalam batin seorang mukmin,” urainya.
Menurut Ustaz Khalidillah, Islam sangat menekankan pentingnya menumbuhkan rasa malu dalam kehidupan sehari-hari. Malu tidak hanya kepada Allah, tetapi juga kepada sesama manusia dan bahkan kepada diri sendiri. Seorang mukmin yang baik akan merasa malu ketika berkata kasar, ketika ingkar janji, ketika menyia-nyiakan waktu, bahkan ketika tidak menjalankan amanah yang telah dibebankan kepadanya.
Allah Swt berfirman, “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (QS Al-Isra’: 19)
Oleh karena itu, harap Ustaz Khalidillah, mari kita jaga dan pelihara rasa malu dalam diri kita. Tanamkan dalam hati bahwa Allah selalu melihat kita dan setiap nikmat yang kita rasakan harus dipertanggungjawabkan.































































































Beri Komentar