ADVERTISMENT
OPINI
OPINI

Kalau PBAK Cuma Formalitas Mending Ga Usah

Penulis: Rahmatal Riza**

Tahun ini, PBAK lagi-lagi datang tanpa makna. Disusun rapi, dibuka megah, tapi isinya? Kosong. Mahasiswa baru disuruh datang pagi-pagi, berdiri dengan penuh semangat yang masih mentah, lalu dipulangkan jam 10.

Sisanya daring, lewat Zoom, dengan slide yang sangat membosankan. Kampus menyambut mahasiswa baru seolah menyambut tamu tak diundang, dilakukan dengan terpaksa, diselesaikan dengan cepat, dan dilupakan begitu saja.

Tidak ada konsumsi. Tidak ada jamuan. Tidak ada sedikit pun tanda bahwa mereka ini manusia. Tak ada niat menyambut, yang ada hanya niat menggugurkan kewajiban. Bahkan air putih pun dianggap terlalu mewah untuk diberikan. Gila!. Di kampung, tamu datang jam 7 pagi masih dikasih kue dan kopi. Di kampus ini, tamu datang dikasih rundown, disuruh senyum, lalu diusir pelan-pelan dengan format hybrid yang katanya canggih.

Dan jangan pura-pura kaget. Format hybrid itu bukan inovasi. Itu akal-akalan kampus supaya nggak keluar duit. Supaya tidak ada kewajiban menyediakan makan siang. Disuruh datang sebentar, biar pulangnya sebelum lapar. Ini bukan efisiensi. Ini kelicikan yang dibungkus dengan tabel dan jadwal. Kita semua tahu itu. Tapi ya begitulah, kampus lebih pintar menyusun alasan daripada menyusun anggaran.

Berita Lainnya:
APBN di Tepi Jurang, Kinerja Purbaya Mulai Dipertanyakan

Lalu siapa yang disuruh kerja? Mahasiswa. Organisasi mahasiswa. Panitia. Disuruh siapkan teknis. Disuruh pegang mic. Disuruh cari mentor. Disuruh ikut gladi bersih yang lebih sering berantakan daripada bersih. Tapi soal logistik? Soal dana? Soal makan minum? Jawabannya “Efisiensi”, “Itu bukan urusan ormawa”. Lah terus, kami ini apa? Hiasan? cuma pelengkap lembaga kampus?

Dan yang lebih membuat darah naik bukan cuma kampus. Tapi para ketua-ketua ormawa yang mulutnya mendadak bisu. Yang biasanya paling semangat foto bareng dan posting ucapan selamat datang untuk maba, tapi kali ini pura-pura tidak tahu. PBAK sudah berubah jadi parade kesenjangan dan ketidakadilan, tapi mereka memilih diam. Mungkin takut kehilangan jatah foto di depan mimbar. Atau takut tidak dilibatkan tahun depan. Lucu. Mereka menyebut dirinya pemimpin mahasiswa, tapi tidak berani memperjuangkan mahasiswa.

Berita Lainnya:
Polisi Kesulitan Penjarakan Roy Suryo Cs

Ingat, ini bukan soal nasi kotak. Ini soal martabat. Mahasiswa baru datang dengan semangat, tapi yang mereka dapat hanya rundown dan sambutan. Mereka tidak dikenalkan kampus dengan cinta, tapi dengan formalitas yang membosankan. Dan para ketua ormawa diam, seolah mereka tidak lahir dari perjuangan, tapi dari lembar disposisi birokrasi.

Saya muak. Saya benar-benar muak. Kampus ini makin hari makin kehilangan nurani. Fakultas saya makin meninggalkan makna dakwah. Dan para pimpinan mahasiswa lebih sibuk mencuci tangan daripada menggenggam tangan mahasiswa baru. Kalau penyambutan saja sudah separah ini, jangan salahkan kalau maba jadi apatis.

image_print
1 2
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
ADVERTISMENT
Update Terbaru
ADVERTISMENT
Orinews Logo
Update Terbaru
Memuat Artikel...
MEMUAT BERITA...

Reaksi

Berita Lainnya