ADVERTISMENT
OPINI
OPINI

One Piece Flag Versus Merah Putih di Tanah Republik

Dalam dunia One Piece, Pemerintah Dunia adalah karikatur dari sistem global yang korup: mereka menutupi sejarah, membenarkan tirani, dan menciptakan ketertiban yang melanggengkan ketakutan. Apakah ini terdengar asing?

Indonesia pascareformasi, dalam banyak hal, merepresentasikan logika kekuasaan semacam itu. Stabilitas menjadi mantra suci. Kritik dianggap kebisingan. Dan hukum dijalankan seperti pisau tukang daging: tajam ke lawan politik, tumpul untuk lingkaran istana.

Luffy tidak tunduk pada sistem seperti itu. Dan rakyat Indonesia pun tampaknya mulai mencari pelarian dalam simbol bajak laut yang lebih jujur daripada parlemen mereka sendiri.

Rakyat yang Terus Bermimpi

Ada sesuatu yang getir dalam ironi ini: bangsa yang telah merdeka selama lebih dari tujuh dekade, tapi rakyatnya masih bermimpi tentang arti kemerdekaan yang sejati.

Mereka bermimpi tentang negara yang tidak memperkosa alam demi investor. Tentang pendidikan yang tidak menjadi mesin klasifikasi sosial. Tentang keadilan yang tidak bisa dibeli. Tentang pemilu yang bukan lelucon elit politik.

Berita Lainnya:
APBN di Tepi Jurang, Kinerja Purbaya Mulai Dipertanyakan

Tetapi setiap kali rakyat mendekat pada mimpi itu -dalam bentuk demonstrasi, kritik, atau partisipasi- kekuasaan justru menertawakannya, menghambatnya, bahkan menghukumnya. Maka mimpi-mimpi itu pun mundur ke ruang fiksi, kepada tokoh-tokoh seperti Luffy yang, meski khayal, menawarkan kejujuran dan keberanian yang nyata.

One Piece, secara paradoks, menjadi mitos yang lebih masuk akal ketimbang pidato kenegaraan presiden.

Luffy dan Pendiri Bangsa

Para pendiri bangsa Indonesia adalah semacam bajak laut dalam sejarah mereka sendiri. Mereka menolak tatanan kolonial, menantang narasi dunia, dan berlayar dalam badai geopolitik global dengan perahu kecil bernama republik. Tapi setelah mereka wafat -atau disingkirkan- republik ini direbut oleh mereka yang mengaku sebagai pelanjut perjuangan, namun tak mewarisi keberaniannya.

Berita Lainnya:
Dilema Alumni LPDP: Pulang Digaji Rendah, Menjabat Incaran Korupsi

Kini republik ini dipimpin oleh orang-orang yang menyembah elektabilitas lebih dari integritas. Yang lebih bangga menanam anak dalam jabatan ketimbang memperjuangkan nasib petani. Maka jangan salahkan rakyat jika mereka lebih percaya pada Luffy daripada pada lembaga-lembaga negara.

Luffy mungkin bajak laut, tapi ia bukan pencuri. Ia hanya ingin menciptakan dunia yang tidak ditentukan oleh kelahiran, status, atau kekuasaan. Bukankah itu juga yang dahulu diperjuangkan oleh Tan Malaka, Sjahrir, atau Soekarno?

Kemerdekaan Tak Pernah Diberi -Harus Direbut 

Kemerdekaan bukan hadiah. Ia bukan surat keputusan yang bisa diteken oleh presiden. Ia bukan seremoni. Ia adalah keberanian untuk berkata tidak pada sistem yang tidak adil. Keberanian untuk menolak diam.

image_print
1 2 3
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
ADVERTISMENT
Update Terbaru
ADVERTISMENT
Orinews Logo
Update Terbaru
Memuat Artikel...
MEMUAT BERITA...

Reaksi

Berita Lainnya