Secara internasional, ambang batas kemiskinan versi Bank Dunia untuk negara dengan pendapatan menengah ke atas adalah 6,85 dolar AS per hari. Bila dikonversi dengan kurs rata-rata Rp15.500 per dolar AS, angka ini setara dengan sekitar Rp106.000 per hari. Angka ini semakin menguatkan bahwa ukuran hidup layak seharusnya menjadi parameter baru dalam mengukur kemiskinan, bukan garis batas minimal yang sempit dan menyesatkan.
Maka, berdasarkan konsep ekonom Mubyarto, kemiskinan adalah hidup di bawah layak. Ketika 47 persen warga negara tidak dapat hidup secara manusiawi, maka Indonesia menghadapi krisis kesejahteraan yang tak terlihat dalam statistik resmi. Itu artinya, kita telah gagal menjamin standar hidup yang bermartabat bagi sebagian besar rakyatnya. Negara dan pemerintahan juga telah gagal total menjaga kesejahteraan dan kesentosaan warganya.
Dalam kerangka ideologi Pancasila, terutama sila kelima, keadilan sosial tidak bisa diukur dengan statistik rendah hati. Negara wajib menjamin agar setiap warga-negara memiliki standar hidup yang layak dan sejahtera. Oleh karena itu, tingkat kemiskinan Indonesia yang sebenarnya adalah 47 persen, bukan 8,47 persen. Ini adalah peringatan ideologis bahwa kebijakan pembangunan masih berpihak pada narasi makro, bukan realitas mikro kehidupan warga negara.
Singkatnya, mengatasi kemiskinan nasional bukan saja kerja raksasa, sikap amal, perintah konstitusi bahkan pesan agama. “Ini adalah perlindungan hak asasi manusia yang mendasar, hak atas martabat dan kehidupan yang layak,” kata Nelson Mandela (1918-2013). Karena itu tidak boleh main-main, manipulatif, karitatif, politisasi bahkan semaunya. Sebaliknya harus TSM (terstruktur, sistematis dan masif). Semoga mestakung.
**). Penulis adalah Presidium Forum Negarawan) dan Ekonom Universitas MH Thamrin





























































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…