ADVERTISMENT
EDUKASI
EDUKASI

Dari Bengkel ke Mimbar Sarjana: Kisah Inspiratif Wisudawan Wirausaha USK

BANDA ACEH – “Anak buruh tani bisa jadi apa?” Pertanyaan itu bukan hanya datang dari bisik-bisik lingkungan sekitar, tetapi juga menjadi tantangan yang harus dijawab Riski Maulana. Bagi pemuda dari Gampong Lamtamot, Lembah Seulawah ini, gelar sarjana dari Universitas Syiah Kuala (USK) bukan sekadar target, melainkan sebuah misi.

Ia sadar, ijazah saja tidak cukup. Dengan tiga adik yang harus ia pastikan pendidikannya dan seorang ayah yang kian menua, Riski memilih jalan yang tak banyak ditempuh mahasiswa lain: merintis usaha.

Saat teman-temannya fokus pada tugas kuliah, Riski mengambil jalan berlipat ganda. Di sela-sela kesibukan di Program Studi Teknik Pertanian, ia merancang masa depan di sebuah bengkel. Idenya sederhana, namun belum pernah ada di Aceh: Ayam Guling Aceh. Ia sadar, untuk mengubah nasib keluarga buruh taninya, ia harus berani bertaruh.

Berita Lainnya:
Mahasiswa Internasional Asal Gambia Raih Gelar Magister di USK

Perjalanan ini penuh dengan lika-liku yang menguji mental. Saat ia mencari tukang las untuk merakit mesin pemanggang, tak satupun bengkel berani mengambil risiko.

“Tukang di luar sana menolak membuatnya karena belum ada contoh,” kenangnya.

Tanpa pilihan, ia dan teman-temannya harus merakit mesin itu sendiri, bermodalkan video-video dari internet. Panas, lelah, dan rasa putus asa sering kali datang, namun tekadnya lebih kuat.

Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Ayam Guling Aceh viral. Pembeli berbondong-bondong datang, bahkan menyebabkan kemacetan. Modal awalnya sekitar Rp20 juta, yang di dalamnya termasuk bantuan Rp10 juta dari program 1000 Wirausaha Muda USK (WMU).

Namun, kesuksesan tak bertahan lama. Lokasinya harus pindah, dan omsetnya menurun drastis. Riski harus menghadapi realita pahit: ia harus berjuang membiayai usahanya di tengah ketidakstabilan harga bahan baku.

Berita Lainnya:
Animo Tinggi, Paket Iftar UIN Ar-Raniry Bertambah Jadi 2.500 per Hari

“Proses ini mungkin indah diceritakan, tetapi percayalah, sangat sulit ketika dilakukan,” ujarnya, Selasa, 27 Agustus 2025.

Di balik semua air mata dan pengorbanan itu, ada berkah yang melimpah. Dari usaha ayam gulingnya, ia bisa menyekolahkan tiga adiknya di pesantren. Dari sinilah, sedikit demi sedikit, ia mengumpulkan mahar untuk pernikahannya sendiri.

Ia membagi diri antara menjadi mahasiswa di kelas dan menjadi pekerja di luar kelas, belajar di sela-sela kesibukan, bukan di meja yang tenang.

Pesan untuk Generasi ‘Kompetisi Senyap’

Di hadapan para wisudawan, Riski menyampaikan pesan yang menusuk ke dalam hati. Ia menyinggung fenomena “era kompetisi senyap,” di mana media sosial penuh dengan pencapaian yang terkesan instan, memicu kecemasan dan rasa insecure. Ia menekankan bahwa keberhasilan sejati bukanlah soal angka.

1 2 3
Logo
Suara Netizen
Memuat konten netizen...
ADVERTISMENT
Update Terbaru
ADVERTISMENT
Orinews Logo
Update Terbaru
Memuat Artikel...
MEMUAT BERITA...

Reaksi

Berita Lainnya