Dalam konteks itu kemudian kehadiran Presiden Prabowo jadi menarik. “Kalau saya ditanya urgensi ada atau nggak, menurut saya urgensinya untuk Pak Prabowo adalah menetapkan sikap dan mengkalkulasi kepentingan dalam rivalitas geopolitik yang semakin meningkat antara Amerika Serikat dan China,” kata Yeremia.
Meski begitu, ia mengingatkan jangan sampai Indonesia terjebak dalam rivalitas negara-negara besar. Sejauh ini, menurutnya kebijakan luar negeri Indonesia belum tegas. “Jadi urgensi utamanya adalah segera mengkalkulasikan kepentingan-kepentingan strategis dan mengkalkulasikan bagaimana hubungan Indonesia dengan negara-negara besar itu bisa melayani kepentingan nasional ketimbang hanya sekedar berkunjung ke paradigm militer.”
Ia mengharapkan ada aksi-aksi yang lebih konkret dilakukan Prabowo ketimbang sekadar aksi-aksi performatif seperti menghadiri parade militer. “Kita menunggu hasil konkret dari apa yang sebetulnya ingin pemerintah Indonesia layani, kepentingan nasional seperti apa, kebutuhan rakyat seperti apa, kebutuhan ekonomi seperti apa yang pemerintah Indonesia sekarang sedang layani dengan Presiden Prabowo hadir di parade-parade militer di negara-negara lain.”
Hadirnya Presiden Prabowo di tengah negara-negara yang terkesan “bermusuhan” dengan AS juga unik di tengah perkembangan belakangan. Indonesia diketahui belakangan menyepakati perjanjian tarif ekspor ke AS sebesar 19 persen dengan sejumlah imbalan, utamanya untuk membuka ekspor mineral penting ke Amerika Serikat.
Padahal di sisi lain Indonesia telah lama berinteraksi ekonomi dengan Cina untuk pengolahan “critical materials” seperti nikel. Sementara Cina berinvestasi besar-besaran di Indonesia sesuai dengan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia untuk membuat pemrosesan nikel di Indonesia sehingga berkontribusi kepada peningkatan posisi Indonesia dalam global value chain.
“Nah sekarang Indonesia mau gimana? AS minta boleh ekspor raw materials untuk critical minerals tapi Cina udah komitmen untuk bangun smelter. Nah ini yang perlu rasanya diperjelas Presiden Prabowo ini kan maunya apa.”
Sedangkan pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia (UI) Suzie Sudarman menilai parade militer China dan kehadiran negara-negara tertentu bakal dilihat sebagai sikap yang antibarat.
Suzie mengamati, Prabowo coba mengikuti jejak Presiden Sukarno dalam hal ini. “Mau menantang tata kelola global, anti imperialis anti kolonialisme, anti kapitalisme ala ala Soekarno karena Pak Prabowo kan merasa seperti titisan Soekarno,” kata Suzie kepada Republika.





























































































PALING DIKOMENTARI
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
KOMENTAR
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Penipu yang begini gaya dia. sekalinya menipu akan tetap terus…