UPDATE

Salam.life
DUNIA
INTERNASIONALASIA

Membaca Makna Kehadiran Presiden Prabowo di Beijing

Tamu lainnya adalah Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan.

Daftar tamunya sangat mirip dengan pertemuan puncak tahunan Organisasi Kerja Sama Shanghai beberapa hari sebelumnya, namun ada beberapa orang yang pulang sebelum parade, termasuk perwakilan dari India dan Turki.

Selain Putin dan Lukashenko, hanya sedikit pemimpin Eropa yang menghadiri parade tersebut. Serbia mengirimkan Presiden Aleksandar Vucic yang bersahabat dengan Rusia dan Slovakia mengirimkan Perdana Menteri Robert Fico.

Namun mantan perdana menteri Rumania Adrian Năstase dan Viorica Dăncilă berfoto bersama dengan para pemimpin saat ini. Mantan pemimpin asing lainnya juga ada dalam daftar tamu, termasuk mantan perdana menteri Selandia Baru Helen Clark dan John Key, serta Daniel Andrews, mantan perdana menteri negara bagian Victoria, Australia.

Yeremia Lalisang, Ketua Program Studi Sarjana Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia mengatakan, parade militer bukan hal yang baru di China. Pada 2015, Presiden Xi juga mengadakan parade militer guna memperingati 70 tahun kekalahan Jepang.

“Itu konteksnya lebih kepada penguatan nasionalisme, jadi targetnya itu target domestik sebetulnya,” ujarnya ketika dihubungi Republika, Rabu (3/9/2025). Menurut Yeremia, Xi ingin memerkuat legitimasi Politik Partai Komunis Cina lewat nasionalisme dan patriotisme di tengah ekonomi China yang tengah merosot.

Selain itu, parade ini juga masuk akal dilihat sebagai tantangan langsung terhadap hegemoni Amerika Serikat. “Menurut saya konteks kalau misalnya ada orang yang berbicara, apakah ini tantangan langsung terhadap hegemoni AS, konteks tersebut masuk akal,” ujarnya.

Ini mengingat rivalitas Amerika Serikat dan China yang menguat belakangan. Mulai dari perang dagang, perlombaan teknologi, dan konteks geopolitik lainnya. “Jadi persaingannya meningkat juga kan untuk produksi electric vehicle dan segala macam. Jadi kalau ini dianggap sebagai tantangan hegemoni AS, masuk akal juga karena intensifikasi rivalitas.”

Ia menyatakan dengan kemampuan yang lebih mumpuni saat ini, termasuk dari segi militer, China sudah masuk dalam era saat mereka menyadari diri sebagai kekuatan besar dan semakin percaya diri untuk menunjukkan kekuatannya. “Walaupun apakah untuk menggunakan kekuatannya ini butuh analisis lain,” ujarnya.

Dengan kekuatan baru itu, menurut Yeremia wajar saja China ingin menegaskan soal adanya tata dunia baru dan multipolaritas kekuatan dunia. “Cina yang kekuatannya jauh melampau Indonesia tentu ingin menunjukkan peran yang lebih besar di dunia secara global, salah satunya tentu dengan narasi-narasi penegasan, narasi-narasi alternatif soal tata dunia baru yang multipolar.”

image_print
1 2 3 4 5
Story Terbaru
MEMUAT STORY...

Bagaimana reaksi Kamu?

Beri Komentar

Terkait

Tampilkan Lainnya Loading...Tidak ada lagi data informasi lainnya.