INDIANAPOLIS — Organisasi Olahraga Perguruan Tinggi AS (NCAA) resmi membatalkan kebijakan kontroversial yang sedianya mengizinkan atlet dan staf departemen olahraga untuk melakukan taruhan pada ajang olahraga profesional.
Daftar Isi
Keputusan pembatalan ini diambil setelah mayoritas institusi anggota Divisi I mengajukan penolakan resmi tepat sebelum tenggat waktu prosedur pembatalan (rescission process).
Aturan baru tersebut sebelumnya dijadwalkan berlaku pada 1 November, namun ditunda hingga 22 November karena gagal meraih suara mayoritas 75 persen di Tingkat Dewan Direksi Divisi I.
Penundaan tersebut membuka ruang bagi universitas anggota untuk memobilisasi penolakan, hingga akhirnya mencapai ambang batas dua pertiga suara yang dibutuhkan untuk membatalkan kebijakan secara penuh di seluruh divisi (Divisi I, II, dan III).
Dengan keputusan ini, larangan total terhadap segala bentuk perjudian olahraga yang dinaungi oleh NCAA tetap berlaku bagi seluruh atlet dan staf universitas.
Gelombang Penolakan dari Pimpinan Liga dan Kampus
Penolakan terhadap kebijakan pelonggaran judi ini dipimpin langsung oleh Komisioner Southeastern Conference (SEC), Greg Sankey.
Melalui memo resmi kepada Presiden NCAA Charlie Baker, Sankey menegaskan bahwa mengizinkan atlet berpartisipasi dalam taruhan olahraga—meskipun pada level profesional—merupakan langkah mundur yang berbahaya.
“Aktivitas perjudian oleh atlet dapat menormalisasi perilaku berisiko, mengaburkan batasan, serta merusak integritas taruhan. Apa yang dimulai sebagai taruhan iseng dapat dengan cepat berkembang menjadi ancaman yang lebih serius,” tegas Sankey.
Nada kritis juga datang dari kalangan pelatih dan direktur olahraga universitas.
Pelatih kepala tim sepak bola Amerika Universitas Pittsburgh, Pat Narduzzi, serta Direktur Olahraga Universitas Kansas State, Gene Taylor, secara terbuka mempertanyakan urgensi kebijakan tersebut.
Tak hanya itu, anggota Kongres AS turut mengirimkan surat kepada pimpinan NCAA untuk meminta pertanggungjawaban atas potensi rusaknya kepercayaan publik terhadap olahraga perguruan tinggi.
Skandal Perjudian dan Pengawasan Ketat
Keputusan mempertahankan larangan ini bertepatan dengan maraknya kasus pelanggaran taruhan di lingkungan kampus. Saat ini, lembaga penegak aturan NCAA dilaporkan sedang menjalankan sedikitnya belasan investigasi aktif terkait dugaan pelanggaran judi.
Beberapa kasus menonjol yang menjadi perhatian publik antara lain:
- Skandal Universitas Iowa & Iowa State (2023): Sedikitnya 30 atlet terbukti terlibat pelanggaran taruhan.
- Kasus Basket Perguruan Tinggi: Sebanyak 20 pemain menghadapi dakwaan federal atas tuduhan pengaturan skor dan taruhan ilegal.
- Hukuman Permanen: Empat pemain basket Alabama State menerima sanksi larangan bertanding seumur hidup setelah terbukti menerima suap untuk memanipulasi hasil pertandingan.
Untuk menjaga integritas kompetisi, universitas dan konferensi kini bekerja sama dengan penyedia jasa pemantau independen. Sistem ini memantau lebih dari 22.000 pertandingan setiap tahunnya guna mendeteksi aktivitas taruhan yang mencurigakan secara real-time.
Sanksi Bagi Pelanggar Aturan Taruhan
NCAA memperketat pedoman pemulihan status (reinstatement) bagi atlet yang melanggar aturan taruhan berdasarkan besarnya nilai nominal:
- Nominal ≤ $200: Wajib mengikuti program edukasi perjudian olahraga.
- Nominal $201 – $500: Pengurangan masa berlaga sebesar 10% dalam satu musim ditambah edukasi.
- Nominal $501 – $800: Pengurangan masa berlaga sebesar 20% dalam satu musim.
- Nominal > $800: Pengurangan masa berlaga sebesar 30% dalam satu musim.
- Taruhan pada Tim Sendiri/Pengaturan Skor: Sanksi pencabutan hak berlaga (ineligibility) secara permanent dari seluruh kompetisi NCAA.
Langkah tegas ini diambil guna memastikan bahwa olahraga mahasiswa tetap bersih dari intervensi industri perjudian yang kini telah dilegalkan di lebih dari 38 negara bagian AS.































































































Beri Komentar