BANDA ACEH – Di tengah kesibukan kota modern, manusia sering terlihat berlari tanpa henti. Kantor, bisnis, sekolah, media sosial—semua menuntut perhatian. Namun, di balik gegap gempita itu, muncul pertanyaan besar: masihkah hidup kita punya makna, atau sekadar rutinitas yang menguras tenaga?
Pertanyaan semacam ini sesungguhnya pernah dijawab oleh Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, melalui karya agungnya Ihya’ Ulumuddin. Ulama besar abad ke-11 itu menekankan bahwa seluruh aktivitas manusia, baik ibadah maupun kebiasaan sehari-hari, sejatinya dapat menjadi jalan menuju Allah. Makan, bekerja, berkeluarga, bahkan bergaul, bisa bernilai ibadah bila dilandasi niat yang benar dan adab yang terjaga.
Dalam bukunya ia menulis: “Adapun bahagian pekerjaan sehari-hari, maka akan saya terangkan hikmah pergaulan yang berlaku antara sesama manusia, liku-likunya, sunatnya yang halus-halus dan sifat memelihara diri yang tersembunyi pada tempat-tempat lalunya. Yaitu, yang harus dipunyai oleh orang yang beragama.”
Namun, Al-Ghazali juga memberi peringatan keras tentang bahaya dunia. “Kecintaan manusia kepada dunia akan membinasakan dirinya, sebagaimana cinta seseorang pada racun yang mematikan,” tulisnya dalam bagian tentang al-muhlikat (sifat-sifat yang membinasakan). Ia menambahkan, dunia sering menipu manusia dengan kemegahannya: “Aku akan buktikan kecenderungan manusia sekarang, jauh dari bentuk kebenaran. Tertipunya mereka dengan kilatan patamorgana. Dan kepuasan mereka dengan kulit ilmu, tanpa isi.”
Pesan ini terasa relevan kini. Di era digital, manusia mudah terjebak dalam layar gawai berjam-jam, mengejar validasi, atau sibuk menambah harta. Padahal, seperti diingatkan Al-Ghazali, hakikat hidup bukan pada banyaknya aktivitas duniawi, melainkan sejauh mana semuanya menjadi bekal mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Lewat pesan Al-Ghazali, kita diajak menata kembali langkah: menjadikan ilmu sebagai penerang hati, menjaga akhlak dalam pergaulan, serta menyucikan niat dalam setiap aktivitas. Dengan begitu, hidup modern yang serba cepat bukan lagi sekadar rutinitas melelahkan, melainkan jalan menuju kebahagiaan sejati—dunia dan akhirat.






























































































