ISLAM
ISLAM

Muhammad SAW Sosok Paling Ideal, Teladani Tiga Sifat Nabi

JANTHO – Nabi Muhammad SAW sosok paling ideal dijadikan teladan hidup di dunia ini, utusan Allah terakhir sekaligus penutup para nabi. Seluruh sifatnya mulia, hingga Allah SWT sendiri memuji akhlak dan keluhuran budi Rasulullah dalam bersosial di tengah masyarakat Makkah.

Penghulu Utama KUA Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Muhammad Nizar, S. Fil.I, M.H, akan menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Jamik Tgk. Chik Lambada Lhok, Kecamatan Baitussalam, 26 September 2025 bertepatan dengan 4 Rabiul Akhir 1447 H.

“Rasulullah sukses menebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru bumi, meninggalkan teladan agung bagi umatnya. Harapannya, semoga kita termasuk golongan yang dibanggakan dan dirindukan Rasulullah SAW, hingga kelak berada di bawah naungan syafaatnya di hari kiamat,” ungkapnya.

Muhammad Nizar menjelaskan, salah satu gambaran sifat beliau termaktub dalam firman Allah SWT: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah: 128)

Dalam ayat ini, Allah menggambarkan tiga sifat utama Rasulullah SAW: ‘azizun (berat merasakan penderitaan umat), harishun (sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi umat), dan ra’ufun rahim (penyantun dan penyayang).

Muhammad Nizar menguraikan yang pertama, azizun (merasakan penderitaan umat). Sifat ‘azizun menunjukkan betapa dalamnya kepedulian Rasulullah terhadap umat. Segala kesusahan, kesedihan, dan kesengsaraan yang menimpa umat Islam juga beliau rasakan. Bahkan, waktu dan hidupnya banyak dihabiskan untuk memikirkan keselamatan umat, baik di dunia maupun di akhirat.

Dalam sebuah riwayat, ketika manusia dikumpulkan di padang mahsyar yang panas membakar, semua nabi sibuk memikirkan diri masing-masing. Namun Rasulullah justru bersujud sambil menangis, berdoa: “Allahumma ummati, ummati, ummati – Ya Allah, umatku, umatku, umatku.”

Inilah puncak cinta beliau kepada umat, hingga Allah berfirman kepada Jibril untuk menyampaikan kabar: “Sungguh, Kami akan membuatmu ridha, dan tidak akan menyakitimu.”

Kedua, harishun (menginginkan keimanan). Sifat harishun menggambarkan tekad Rasulullah yang besar agar manusia hidup dalam cahaya iman dan hidayah, jauh dari kemusyrikan. Rintangan dakwah, permusuhan, fitnah, hingga ancaman tidak pernah melemahkan semangatnya. Rasulullah terus berjuang menunjukkan jalan kebenaran dengan penuh kesabaran dan keteguhan.

image_print
1 2 3 4 5

Reaksi

Berita Lainnya