JAKARTA -Kementerian Agama Republik Indonesia bekerja sama dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI) Pusat menggelar Pelatihan dan Uji Kompetensi Nazir Wakaf berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalisme para nazhir dalam mengelola wakaf secara produktif, modern, dan berkelanjutan.
Pelatihan dan uji kompetensi SKKNI Nazir Wakaf skema 2 ini diikuti oleh calon nazhir dari seluruh Indonesia, termasuk dari Provinsi Aceh. Kegiatan berlangsung secara blended (gabungan daring dan luring), dimulai dengan sesi pra-asesmen pada 24–25 Oktober 2025 yang dilaksanakan secara daring. Selanjutnya, asesmen atau uji kompetensi akan digelar secara luring di Jakarta pada 27–28 Oktober 2025, difasilitasi oleh Kementerian Agama RI, BWI Pusat, dan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) BWI.
Salah satu narasumber utama dalam pelatihan ini, Arief Rohman Yulianto, Komisioner BWI Pusat, menyampaikan materi bertajuk “Kolaborasi Wakaf Produktif Berbasis Risiko.” Dalam paparannya, Arief menekankan pentingnya peran nazhir sebagai penghubung antara wakif, aset wakaf, dan penerima manfaat (mauquf alaih).
Menurut Arief, paradigma pengelolaan wakaf perlu bergeser dari pola tradisional yang berfokus pada penambahan aset menuju pengelolaan berbasis hasil dan dampak sosial. “Wakaf bukan hanya soal menambah aset, tetapi bagaimana aset tersebut mampu memberi nilai tambah dan manfaat nyata bagi kesejahteraan umat,” ujarnya.
Arief menjelaskan, BWI saat ini tengah mengembangkan model kolaborasi wakaf produktif berbasis risiko melalui platform SatuWakaf Marketplace. Platform ini mempertemukan berbagai pihak—mulai dari nazhir, investor, pengusaha muslim, hingga lembaga keuangan syariah—dalam satu ekosistem yang terintegrasi dan transparan.
“Model ini memastikan setiap proyek wakaf memiliki kelayakan bisnis tinggi, dikelola secara profesional, serta memiliki sistem mitigasi risiko yang baik. Dengan adanya early warning system dan laporan rutin, potensi masalah bisa terdeteksi lebih dini,” jelasnya.
Arief juga mencontohkan sejumlah proyek wakaf produktif yang telah berhasil diimplementasikan, seperti greenhouse melon premium di Gunung Kidul dan wakaf sukuk Surabaya Patata. Proyek-proyek tersebut menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara pengelola wakaf, pelaku usaha, dan investor mampu menghasilkan manfaat ekonomi sekaligus sosial bagi masyarakat.
Pelatihan berbasis SKKNI ini merupakan bagian dari upaya sistematis BWI dan Kemenag RI dalam menyiapkan SDM nazhir yang kompeten dan tersertifikasi nasional, sehingga siap menghadapi tantangan pengelolaan wakaf di era digital dan ekonomi syariah modern.
Salah satu peserta dari Aceh, Hamdani dari Yayasan Wakaf Barbate Islamic City (YWBIC), mengaku pelatihan ini memberikan wawasan baru tentang pentingnya kolaborasi dan tata kelola wakaf yang profesional.
“Melalui pelatihan ini kami memahami bahwa pengelolaan wakaf harus dilakukan secara terukur, transparan, dan berbasis manfaat. Kami siap menerapkan ilmu yang diperoleh untuk memperkuat pengelolaan wakaf produktif di Aceh,” ujarnya.
Menutup sesinya, Arief mengajak seluruh peserta untuk terus berkolaborasi membangun ekosistem wakaf produktif di Indonesia. “Kalau ingin cepat, berjalanlah sendiri. Tapi kalau ingin jauh, mari kita berjalan bersama. Karena keberkahan wakaf hanya akan tumbuh melalui kolaborasi,” tutupnya. []
































































































Paling Banyak Dipilih
Viral Lagu “Tak Diberi Tulang…
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Inilah 5 Produk Jam Tangan…
Apa benar, yang nomor 4 itu adalah produk ROLEX...???
Berusia Setengah Abad sejak 6/8/1973…
Berikut untuk mengingatkan kita kembali tentang Sejarah: "Kita bukan pembuat…
Pembiayaan Digantung Tak Ada Kabar…
Kriet mate bank Aceh nyan menyoe meurusan ngen ureng Aceh.…
Ada Dua Nama Calon Direktur…
Siapapun nanti dirut yg terpilih, saya siap membantu bas menggarap…
Active Threads
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Hana jelas, Leh kiban di meubut di kelola,Meu peu cap…
Paling Dikomentari
Kanda Bahlil Girang Disanjung dengan…
Rosan Roeslani Bongkar Akal-akalan Keuangan…
Apa itu Rehabilitasi dan Tujuannya
Kabar Gembira, Bustami Hamzah Resmi…
Bukan Sekadar Pelengkap! PTS Kini…
Komentator Paling Aktif
Komentar Paling Aktif
Syukur lah karena seharusnya memang langsung dimakan karena bukan namanya…
Ara lagi salah minum obat. Kami maklum. hahahaha...
Bikin malu Rakyat Republik Indonesia saja!
Anjing sudah menggonggong karena karena "tak diberi tulang lagi"
Si opung, siapa yang ngga' kenal dia. Mafioso Indonesia
Berita Terpopuler