Yang lebih menyakitkan, penderitaan rakyat sering kali dipolitisasi. Tangis dijadikan latar pidato. Lumpur menjadi properti pencitraan. Namun setelah sorotan kamera padam, korban kembali berjuang sendiri. Jika ini bukan brengsek secara moral, maka kita sedang memiskinkan makna keadilan.
Banjir di Sumatera adalah bahasa alam yang paling jujur. Ia berkata: hentikan keserakahan, atau bersiaplah tenggelam bersama akibatnya. Sayangnya, pesan ini terus diterjemahkan sebagai gangguan sementara, bukan peringatan struktural. Padahal setiap tetes air membawa satu tuduhan: negara abai, pemimpin lalai, dan kebijakan berkhianat.
Tulisan ini tidak bertujuan memaki individu, melainkan menggugat watak kepemimpinan. Sebab negeri tidak runtuh oleh hujan, tetapi oleh keputusan yang menjauh dari nurani. Jika kata brengsek terasa berlebihan, barangkali karena kita terlalu lama memaklumi kebusukan dengan bahasa yang sopan.
Sejarah kelak tidak akan menanyakan seberapa indah pidato para pemimpin, melainkan berapa banyak nyawa yang diselamatkan dan hutan yang dijaga. Dan jika banjir terus berulang, jika kerusakan terus dibiarkan, maka catatan itu akan tegas: kehancuran ini bukan takdir — ia adalah hasil dari kepemimpinan yang brengsek. **





























































































