Ia membandingkan dengan Menteri Keuangan Purbaya yang dinilai berhasil membangun kepercayaan publik lewat komunikasi intensif. Sementara itu, Dino mencatat Menlu Sugiono belum pernah menyampaikan pidato kebijakan dalam setahun terakhir, baik di dalam maupun luar negeri, serta tidak pernah memberikan wawancara khusus kepada media mengenai substansi politik luar negeri.
Minimnya penjelasan publik, menurut Dino, berisiko membuat Sugiono dicap sebagai silent minister. Ia juga menyoroti pola komunikasi Menlu Sugiono yang lebih banyak dilakukan melalui Instagram berupa foto dan video tanpa penjelasan substansi.
Dino menilai hal tersebut membuat Menlu semakin menjauh dari publik dalam urusan hubungan internasional. Ia mencontohkan Conference on Indonesia Foreign Policy, konferensi politik luar negeri terbesar di dunia yang dihadiri ribuan pemuda dan mahasiswa dari berbagai daerah.
Namun, seluruh upaya komunikasi, mulai dari surat, telepon, hingga permohonan pertemuan, disebut tidak pernah direspons oleh Sugiono selama berbulan-bulan. Kritik ketiga menyangkut hubungan Menlu Sugiono dengan para pemangku kepentingan hubungan internasional
Dino menilai Menlu saat ini terkesan jauh, tidak komunikatif, tidak responsif, dan sulit diakses oleh konstituennya. Ia mengingatkan prinsip yang dipegang para Menlu terdahulu, yakni never burn your bridges.
Menurut Dino, kepercayaan, rasa hormat, dan dukungan pemangku kepentingan tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dibangun dan dirawat secara aktif.
Sementara kritik keempat menyoroti keterbukaan Menlu Sugiono terhadap kerja sama dengan akar rumput hubungan internasional. Dino menegaskan bahwa membantu Presiden Prabowo tidak berarti memunggungi rakyat, karena keduanya justru saling menguatkan.
Ia menilai dalam dunia diplomasi, inisiatif bisa datang dari atas maupun dari bawah. Oleh sebab itu, gotong royong antara pemerintah dan organisasi masyarakat hubungan internasional menjadi kunci keberhasilan politik luar negeri.
Dino pun melihat adanya kontradiksi antara seruan kerja sama di forum internasional dengan praktik domestik yang dinilai masih sulit diajak berkolaborasi.
Di akhir pernyataannya, Dino menegaskan bahwa empat kritik tersebut bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai peringatan. Menurutnya, jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, Sugiono berpeluang dicatat sebagai Menteri Luar Negeri yang cemerlang.
Namun jika diabaikan, ia memperingatkan Kementerian Luar Negeri akan meredup dan diplomasi Indonesia berisiko mengalami kemunduran yang serius.































































































