ACEH BESAR – Banjir bandang yang disertai lumpur dan gelondongan kayu besar di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera masih hangat diperbincangkan. Meski lebih satu bulan berlalu, dampak bencana itu belum sepenuhnya pulih.
Kerusakan fisik, trauma psikologis warga, serta gangguan terhadap sektor ekonomi, pendidikan, dan sosial masih sangat terasa. Bencana ini tidak hanya meninggalkan puing dan luka, tetapi juga kegelisahan dan pertanyaan mendalam tentang hubungan manusia dengan alam dan Tuhannya.
Sejarah mencatat, Aceh bukanlah wilayah yang asing dengan musibah besar. Pada penghujung 2004, gempa bumi dahsyat yang disusul gelombang tsunami meluluhlantakkan Serambi Mekkah dan merenggut ratusan ribu nyawa. Dua peristiwa besar ini — tsunami dan banjir bandang — terpatri kuat dalam ingatan kolektif masyarakat Aceh sebagai ujian yang sangat berat. Bukan hanya ujian fisik dan sosial, tetapi juga ujian keimanan.
Hal inilah yang disampaikan oleh Dr. Tgk. Syahminan, M.Ag, akademisi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dalam tausiyahnya usai salat subuh berjamaah di Masjid Babul Maghfirah, Gampong Tanjong Seulamat, Kecamatan Darussalam, Jumat (2/1/2026). Menurutnya, bencana tidak semata-mata dapat dibaca sebagai peristiwa alam, melainkan sebagai sarana muhasabah dan ujian iman bagi manusia.
Dalam tausiyah tersebut, Syahminan mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 67 yang menggambarkan tabiat manusia ketika berhadapan dengan bahaya:
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur).”
Syahminan menjelaskan, ayat ini menggambarkan perilaku manusia saat menghadapi musibah. Ketika bencana datang misalnya air meluap, lumpur menerjang, rumah hanyut, dan nyawa terancam, manusia spontan memanggil dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT. Dalam kondisi genting, seluruh sandaran dunia runtuh, mereka lupa akan harta, jabatan yang dimilikinya dan kesadaran tauhid muncul dengan sangat kuat.
Namun ujian sesungguhnya, kata dia, justru hadir setelah bencana berlalu. Ketika air mulai surut, bantuan berdatangan, dan kehidupan perlahan kembali normal, banyak manusia lupa pada doa-doa dan janji yang terucap saat musibah terjadi. Rasa syukur melemah, ketaatan mengendur, dan kesadaran spiritual kembali memudar, sebagaimana diingatkan dalam ayat tersebut.
Syahminan mengingatkan agar umat Islam menghadapi bencana ini dengan keteguhan iman dan keyakinan. Ia menegaskan bahwa kedahsyatan banjir bandang tidak boleh menggoyahkan kepercayaan kepada Allah SWT.
“Jangan berubah keyakinan ketika melihat begitu dahsyatnya air yang turun dari gunung disertai lumpur dan kayu. Semua itu terjadi atas izin Allah SWT,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa kerusakan alam dan perilaku manusia yang abai terhadap lingkungan memang dapat menjadi penyebab terjadinya bencana. Namun dalam perspektif keimanan, segala yang terjadi di alam semesta tetap berada dalam kuasa Allah SWT.
Karena itu, Syahminan mengingatkan agar masyarakat tidak larut dalam sikap saling menyalahkan dan menuding pihak tertentu semata, seolah-olah manusia sepenuhnya berkuasa atas takdir.
Lebih jauh, ia mengajak jamaah untuk memandang alam sebagai makhluk Allah yang juga memiliki dimensi spiritual. Gunung, air, pepohonan, dan seluruh ciptaan Allah, kata Syahminan, senantiasa bertasbih dan tunduk kepada-Nya. Ketika perilaku dan akhlak manusia melampaui batas seperti merusak alam, mengabaikan nilai moral, dan berlaku zalim, maka seluruh makhluk itu, memohon agar kerusakan tersebut dihentikan.
Namun, lanjutnya, Allah SWT dengan sifat-Nya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak serta-merta membinasakan manusia. Allah selalu membuka pintu ampunan dan memberikan kesempatan kepada hamba-hamba-Nya untuk kembali dan memperbaiki diri.
Tgk. Syahminan menutup tausiyahnya dengan ajakan untuk bermuhasabah dan bertaubat. Menurutnya, bencana seharusnya tidak hanya melahirkan ketakutan sesaat, tetapi menjadi momentum perubahan akhlak, penguatan iman, dan kepedulian terhadap alam.
“Mari kita bertaubat dan memohon ampunan Allah SWT,” pungkasnya. (**)






























































































