BANDA ACEH – Presiden AS Donald Trump dan Presiden Kolombia Gustavo Petro kembali terlibat perang kata-kata. Gustavo Petro tegaskan akan mengangkat senjata jika AS melakukan invasi. Dalam pernyataannya Petro yang juga mantan gerilyawan sayap kiri pada tahun 1990-an, menolak tuduhan Trump bahwa ia adalah bandar narkoba.
“Saya bukan anak haram dan saya bukan pengedar narkoba.Trump berbicara tanpa pengetahuan. Berhenti memfitnah saya,” tulisnya dalam sebuah unggahan di X.
“Jika mereka [AS] mengebom, para petani akan menjadi ribuan gerilyawan di pegunungan. Dan jika mereka menahan presiden yang dicintai dan dihormati oleh sebagian besar rakyat, mereka akan melepaskan ‘jaguar’ rakyat,” kata Petro memperingatkan.
Petro menghabiskan sebagian masa mudanya sebagai anggota kelompok gerilya sayap kiri M-19. Meski ada spekulasi ia tidak pernah berpartisipasi dalam pertempuran.
Setelah demobilisasi, ia berpartisipasi dalam penyusunan konstitusi baru pada tahun 1991 dan kemudian menjadi anggota parlemen yang dihormati. Ia pernah menjabat sebagai walikota ibu kota Kolombia sebelum terpilih sebagai presiden.
“Saya bersumpah untuk tidak menyentuh senjata lagi… tetapi untuk tanah air, saya akan mengangkat senjata lagi,” katanya.
Menteri Pertahanan Kolombia, Pedro Sánchez, mengumumkan pada Sabtu bahwa pengawalan presiden telah diperkuat.
AS mencabut visa Petro pada September setelah ia menyerukan kepada tentara Amerika untuk tidak mematuhi perintah ilegal apa pun. Pada bulan Oktober, AS menjatuhkan sanksi keuangan kepada Petro dan keluarganya. istri dan beberapa kolaborator dekatnya.
Pada saat yang sama ketika AS meningkatkan kehadiran militernya di Karibia dan membom kapal-kapal yang diduga membawa narkoba untuk menekan Maduro di Venezuela. Pasukan AS juga melakukan serangan terhadap kapal-kapal di wilayah Pasifik timur di sebelah barat pantai Kolombia.
Peringatan Trump
Berbicara kepada wartawan di Air Force One pada Ad, presiden AS mengancam aksi militer serupa terhadap Kolombia seperti halnya yang telah dilakukan di Venezuela. Trump mengatakan negara Amerika Selatan itu ‘sangat sakit’ dan dijalankan oleh ‘orang sakit’ yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat.
“Dia memiliki pabrik kokain dan tidak akan melakukannya dalam waktu lama,” tambah Trump.
Meskipun Kolombia adalah produsen kokain terbesar di dunia, tidak ada bukti bahwa Presiden Gustavo Petro, yang terpilih pada tahun 2022, terlibat dalam bisnis tersebut.
Negara ini telah lama menjadi mitra dekat AS dalam memerangi perdagangan narkoba dan menikmati dukungan bipartisan di Washington, tetapi hubungan telah memburuk secara dramatis sejak Trump menjabat.































































































