LINGKUNGAN
LINGKUNGAN

Bagaimana Burung Purba Memenuhi Tuntutan Energi untuk Terbang?

BANDA ACEH – Terbang merupakan bentuk pergerakan yang paling menguras energi dibanding berjalan, berenang, atau berlari. Kebutuhan kalori yang tinggi ini mendorong burung mengembangkan adaptasi khusus agar lebih efisien dalam mencari dan mencerna makanan.

Studi terbaru terhadap Archaeopteryx mengungkap bahwa ciri-ciri unik pada mulut burung, seperti tulang tambahan pada lidah, ujung paruh yang sensitif, serta struktur berdaging menyerupai gigi di langit-langit mulut, telah muncul sejak Periode Jura. Fitur-fitur tersebut, yang masih ditemukan pada burung modern, menunjukkan bahwa kemampuan mengolah makanan secara efisien menjadi kunci utama kehidupan di udara.

Garis tipis antara dinosaurus dan burung

Semua burung adalah dinosaurus, tetapi tidak semua dinosaurus adalah burung. Burung yang hidup saat ini merupakan satu-satunya kelompok dinosaurus yang selamat dari kepunahan massal 66 juta tahun lalu. Dilansir laman EurekAlert, Archaeopteryx yang hidup sekitar 150 juta tahun lalu di wilayah yang kini menjadi Jerman, adalah dinosaurus paling awal yang juga dikategorikan sebagai burung.

Berita Lainnya:
Pimpin Rakor Penanggulangan Bencana, Wagub Minta Kabupaten Kota Fokus Persiapan Ramadhan

Advertisements

Namun, Archaeopteryx hidup berdampingan dengan dinosaurus kecil berbulu lain yang berkerabat dekat dengan burung, tetapi bukan burung dan belum mampu terbang. Membedakan kedua kelompok ini sangat sulit bagi ahli paleontologi.

“Untuk waktu yang lama, sangat sedikit hal yang benar-benar bisa kami katakan sebagai ciri yang menandai transisi dari dinosaurus darat ke dinosaurus burung yang mampu terbang,” ujar Jingmai O’Connor, kurator asosiasi reptil fosil di Field Museum Chicago.

Ia menambahkan, “Ciri-ciri kecil yang aneh di dalam mulut Archaeopteryx, yang juga ditemukan pada burung modern, memberi kami kriteria baru yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu fosil dinosaurus termasuk burung atau bukan.”

Berita Lainnya:
Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Usai Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Kajian Jingmai O’Connor dan timnya itu berjudul “Avian features of Archaeopteryx feeding apparatus reflect elevated demands of flight” yang terbit di jurnal The Innovation.

Temuan fosil Archaeopteryx dipamerkan di Field Museum sejak 2024 dan pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada 2025. Ketika fosil itu tiba di Field Museum pada 2022, sebagian besar tubuhnya masih tertutup batuan. Tim preparator fosil yang dipimpin oleh Akiko Shinya menghabiskan lebih dari satu tahun dengan hati-hati mengikis lapisan batu kapur untuk menyingkap spesimen di dalamnya.

“Satu-satunya alasan struktur di dalam mulut Archaeopteryx ini bisa ditemukan adalah karena para preparator kami bekerja dengan sangat teliti pada fosil ini,” kata O’Connor.

1 2 3
Geser »

Imsakiyah Ramadhan 1447 H

Kota Banda Aceh & Sekitarnya

Harian Aceh Indonesia
Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, Indonesia
Tanggal Imsak Subuh Dzuhur Ashar Maghrib Isya
Memuat data...
Update Terbaru
A

Redaksi

14 Feb 2026

Sandaran yang Patah
A

Azharsyah Ibrahim

14 Feb 2026

Dinamika Praktik Gala Tanoh di Aceh
A

Redaksi

13 Feb 2026

Bongkar Buku – MADILOG
A

Redaksi

13 Feb 2026

Takdir dan Keikhlasan
A

Tabrani Yunis

12 Feb 2026

Gamang
A

Redaksi

12 Feb 2026

The End of Ideology
A

Siti Hajar

11 Feb 2026

Konstitusi dan Air Mata Anak Negeri
A

Redaksi

11 Feb 2026

MBG vs Guru Honorer
A

Redaksi

10 Feb 2026

Mengubah Nasib Ke Luar Negeri
A

Dayan Abdurrahman

10 Feb 2026

Tatanan Global Dan Luka Peradaban
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Reaksi

Berita Lainnya